Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan serangkaian pernyataan kontroversial kepada wartawan pada Selasa, 14 April 2026, yang mencakup perkembangan negosiasi dengan Iran, kebijakan energi, hingga serangan verbal terhadap pemimpin agama dunia. Trump mengklaim bahwa Teheran sangat berhasrat untuk mencapai kesepakatan dan menyatakan bahwa “orang-orang yang tepat” telah menghubungi Washington untuk bekerja sama. Meski mengklaim banyak poin telah disepakati, Trump mengakui pihak Iran belum meresmikannya, namun ia tetap optimis hal itu akan terjadi sembari menegaskan kembali posisinya bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Terkait situasi di Selat Hormuz, Trump menunjukkan sikap menantang dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan jalur tersebut, namun tetap akan memberlakukan blokade untuk mencegah “pemerasan dunia.” Ia meyakini negara-negara lain akan bergabung dalam upaya blokade tersebut, meskipun saat ini belum ada negara Eropa yang menunjukkan kesediaan untuk membantu sanksi tersebut. Sebaliknya, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa jika keamanan pelabuhan Iran terancam, maka tidak ada satu pun pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman. Di sisi lain, Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad menunjukkan itikad baik Teheran dengan menyatakan kesiapan untuk mengencerkan—namun tidak menyerahkan—450 kilogram uranium yang diperkaya sebagai bagian dari proses negosiasi.
Selain isu Iran, Trump memicu kontroversi internasional dengan menolak meminta maaf atas serangannya terhadap Paus Leo XIV. Trump menjuluki Paus sebagai sosok yang “sangat lemah,” “sangat liberal,” dan tidak percaya pada pemberantasan kejahatan setelah pemimpin Gereja Katolik tersebut menentang perang terhadap Iran. Trump juga secara mengejutkan mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap Kuba setelah urusan dengan Iran selesai. Mengenai unggahan fotonya yang menyerupai Yesus Kristus, Trump berkilah bahwa ia mengira gambar tersebut merepresentasikan dirinya sebagai seorang dokter yang berkaitan dengan Palang Merah, dan menuding media telah memutarbalikkan interpretasi foto tersebut.
Di tempat terpisah, Paus Leo XIV memulai kunjungan bersejarah pertamanya ke Aljazair—negara kelahiran Santo Agustinus—sebagai bagian dari tur ke empat negara Afrika. Dalam pidatonya yang sangat keras, Paus mengkritik pelanggaran hukum internasional oleh “kekuatan global neo-kolonial” dan mendesak masyarakat untuk membangun keadilan serta solidaritas. Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah serangan verbal Trump terhadap dirinya. Sementara itu, di tengah gejolak ini, Trump mencatat bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping juga menginginkan konflik dan ketegangan di Selat Hormuz segera berakhir, mencerminkan besarnya tekanan internasional untuk menghentikan eskalasi perang yang tengah berlangsung.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: DW



