Skip to main content

Duta Besar Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeed Irvani, secara resmi menuntut kompensasi dari lima negara kawasan—Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania—atas keterlibatan mereka dalam perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan entitas penjajah Israel terhadap Republik Islam Iran. Dalam suratnya kepada Sekretaris Jenderal PBB pada Selasa, 14 April 2026, Irvani menegaskan bahwa blokade laut yang dipaksakan oleh Washington di Selat Hormuz merupakan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran, serta hukum internasional yang menjamin kebebasan navigasi. Teheran membebankan tanggung jawab penuh kepada Amerika Serikat atas tindakan ilegal tersebut yang dianggap mengancam perdamaian serta keamanan regional dan internasional.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran sangat berkeinginan untuk mencapai kesepakatan, meski pada saat yang sama ia menyatakan tidak tertarik untuk kembali ke meja perundingan. Terkait Selat Hormuz, Trump menegaskan bahwa Washington tidak membutuhkan jalur tersebut namun tidak akan membiarkan negara mana pun “memeras dunia”. Namun, klaim Trump ini berbenturan dengan kenyataan di lapangan di mana negosiasi di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan akibat apa yang disebut Teheran sebagai tuntutan Amerika Serikat yang berlebihan dan tidak masuk akal, meskipun pihak Iran telah mengajukan berbagai inisiatif selama pembicaraan intensif selama 21 jam tersebut.

Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah meninjau perkembangan ini melalui komunikasi telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov. Araqchi memperingatkan dampak serius dari tindakan provokatif Amerika Serikat di kawasan Teluk, terutama setelah pengumuman blokade laut yang melanggar hukum maritim internasional. Menanggapi hal ini, Lavrov menegaskan kembali posisi prinsip Rusia yang mengutuk agresi Amerika-Israel terhadap Iran. Araqchi juga berkomunikasi dengan menteri luar negeri Prancis, Oman, Arab Saudi, dan Qatar, menegaskan bahwa ambisi Washington adalah penghambat utama tercapainya kesepakatan permanen.

Meskipun negosiasi di Islamabad akhir pekan lalu belum membuahkan hasil, jalur komunikasi antara delegasi Amerika dan pemimpin Iran dilaporkan belum terputus. Pejabat Amerika Serikat menyatakan kepada media bahwa masih ada kemajuan dalam upaya mencari jalan keluar diplomatik dan pekerjaan terus berlanjut untuk mengatasi hambatan yang ada. Berdasarkan informasi dari koresponden di Pakistan, diperkirakan akan ada putaran baru perundingan dengan tingkat representasi delegasi Amerika yang berbeda dalam waktu satu minggu atau sepuluh hari ke depan, masih dalam periode gencatan senjata sementara ini.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Press TV