Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis pernyataan resmi nomor 56 dalam rangkaian Operasi “True Promise 4” pada Kamis, 9 April 2026, sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon. IRGC memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan mitra Zionisnya bahwa Teheran tidak akan tinggal diam atas pembantaian di Beirut yang terjadi hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata oleh Pakistan. Dalam pernyataan tersebut, IRGC menegaskan akan memberikan balasan yang membuat agresor menyesal jika serangan terhadap Lebanon tidak segera dihentikan, sembari melabeli tindakan Israel sebagai cerminan identitas yang lekat dengan pembunuhan warga sipil dan anak-anak.
Ketegangan ini semakin dipertegas oleh Brigadir Jenderal Majid Mousavi, komandan Pasukan Dirgantara IRGC, yang menyatakan secara eksplisit bahwa setiap serangan terhadap Hezbollah merupakan serangan langsung terhadap Iran. Mousavi mengonfirmasi bahwa unit-unit di lapangan kini tengah mempersiapkan balasan yang menentukan terhadap kejahatan brutal entitas tersebut. Sejalan dengan itu, suara dari parlemen Iran turut mengeras; Ibrahim Rezaei, juru bicara Komite Keamanan Nasional, menyerukan penghentian segera lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai jawaban atas agresi di Lebanon, sementara Ebrahim Azizi selaku ketua komite menyatakan bahwa “hanya api yang akan mendisiplinkan” musuh yang tidak memahami arti gencatan senjata.
Di jalur diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah menjalin komunikasi intensif dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, untuk membahas pelanggaran serius yang dilakukan Israel. Araqchi menegaskan posisi Teheran yang eksplisit: Washington tidak dapat menggabungkan jalur negosiasi dengan kelanjutan perang melalui tangan Israel. Amerika Serikat diberi pilihan tegas untuk berkomitmen pada gencatan senjata menyeluruh di semua front perlawanan atau menghadapi konsekuensi dari kelanjutan perang. Perwakilan Iran di PBB juga memperingatkan dampak mengerikan yang akan timbul jika Israel terus mengabaikan kewajiban gencatan senjata di Lebanon.
Sumber keamanan dan politik Iran menyatakan kepada Al-Mayadeen bahwa ketidakpercayaan Teheran terhadap Amerika Serikat semakin terbukti dengan adanya eskalasi ini. Meskipun mediator Pakistan dan pihak Amerika Serikat sebelumnya diklaim mendukung penghentian perang di seluruh arena front perlawanan, serangan udara Israel di Beirut, Lebanon Selatan, dan Bekaa yang menewaskan lebih dari 250 orang menunjukkan adanya pembangkangan strategis. Teheran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Lebanon akan dihukum dengan kekuatan yang nyata, menempatkan kesepakatan Islamabad yang baru seumur jagung berada di ujung tanduk kehancuran total.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Tehran Times



