Skip to main content

Perlawanan Islam di Lebanon (Hizbullah) mengumumkan pada Kamis dini hari, 9 April 2026, bahwa unit tempurnya telah meluncurkan salvo roket ke arah pemukiman Manara di wilayah utara Palestina yang diduduki. Operasi ini dinyatakan sebagai respons langsung atas pelanggaran berat yang dilakukan militer Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata global yang diumumkan sebelumnya oleh Pakistan. Hizbullah menegaskan bahwa meskipun pihaknya sempat menahan diri sesuai kesepakatan, kebrutalan musuh yang terus membantai warga sipil memaksa mereka untuk melanjutkan operasi pertahanan hingga agresi Amerika-Israel terhadap rakyat Lebanon benar-benar dihentikan.

Klaim sepihak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak mencakup wilayah Lebanon menjadi pemicu eskalasi berdarah sepanjang hari Rabu. Kantor hubungan media Hizbullah mengutuk rangkaian pembantaian yang dilakukan Israel sebagai tindakan genosida dan kejahatan perang yang menyasar pasar serta pemukiman padat penduduk di Beirut, Sidon, dan Bekaa. Hizbullah menilai serangan barbar ini sebagai ekspresi keputusasaan dan kegagalan total Israel dalam mencapai tujuan militernya di berbagai front, sekaligus upaya balas dendam terhadap rakyat Lebanon yang tetap teguh mendukung garis perlawanan.

Di Teheran, gelombang demonstrasi massa pecah di Lapangan Revolusi dan berbagai kota besar lainnya sebagai bentuk solidaritas terhadap Lebanon. Warga Iran membawa spanduk bertuliskan “Kami tidak akan meninggalkan Lebanon” dan meneriakkan slogan anti-kompromi sebagai dukungan terhadap keputusan kepemimpinan mereka. Garda Revolusi Iran (IRGC) turut menegaskan komitmennya untuk memenuhi tugas terhadap Lebanon dan berjanji akan memberikan respons yang membuat agresor menyesali tindakannya. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menegaskan kembali bahwa gencatan senjata di Lebanon adalah syarat mutlak dalam inisiatif 10 poin Iran untuk mengakhiri perang.

Situasi diplomatik kini berada di titik kritis karena adanya perbedaan mendasar dalam interpretasi gencatan senjata. Sumber keamanan dan politik Iran menyatakan kepada Al-Mayadeen bahwa Teheran sejak awal tidak menaruh kepercayaan pada Amerika Serikat, mengingat Washington mencoba memisahkan front Lebanon dari kesepakatan umum. Iran memberikan pilihan tegas kepada Amerika Serikat: berkomitmen pada gencatan senjata menyeluruh di seluruh arena perlawanan—sebagaimana yang didukung oleh mediator Pakistan—atau membiarkan perang terus berlanjut melalui tangan Israel. Ketidakpastian ini membayangi rencana perundingan di Islamabad, sementara Lebanon terus menghadapi ancaman pembantaian susulan di bawah klaim sepihak Netanyahu.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: TRT World