Ribuan warga Amerika Serikat turun ke jalan di berbagai kota besar pada hari Senin, 2 Maret 2026, untuk memprotes operasi militer gabungan AS-Israel di Iran. Di Boston, para pengunjuk rasa tetap bertahan meski suhu udara sangat rendah, menyuarakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “perang yang bodoh, amoral, dan berbahaya.” Aksi serupa terjadi di Manhattan, New York, di mana massa melakukan aksi long march dengan slogan “Hentikan intervensi di Iran sekarang.” Di Pantai Barat, tepatnya di Los Angeles, demonstran menuntut penghentian total keterlibatan militer AS, yang juga diikuti oleh protes serupa di Chicago, Portland, dan Madison. Kondisi ini diperkuat oleh hasil jajak pendapat terbaru CNN yang menunjukkan bahwa 60% warga Amerika tidak menyetujui intervensi militer tersebut dan meyakini bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki rencana yang jelas, sementara 62% lainnya menuntut agar Trump mendapatkan persetujuan Kongres sebelum mengambil tindakan militer lebih lanjut.
Di medan perang, ketidaksiapan strategis Washington dan Tel Aviv mulai terungkap. Laporan dari The Washington Post pada hari Selasa, 3 Maret 2026, menyebutkan bahwa pejabat Amerika Serikat dan Israel tidak siap menghadapi kecepatan dan skala respons militer Iran. Meskipun mereka telah menyusun berbagai skenario serangan balasan, mulai dari serangan siber hingga serangan proksi, intensitas ledakan balik dari Teheran yang sangat masif dan cepat berada di luar prediksi mereka. Hal ini menciptakan situasi sulit di lapangan, terutama terkait pertahanan udara yang mulai kewalahan membendung gelombang serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh militer Iran dan kelompok perlawanan lainnya.
Krisis amunisi menjadi isu paling krusial yang dihadapi koalisi AS-Israel saat ini. Majalah Inggris The Economist melaporkan bahwa jumlah rudal pencegat yang digunakan oleh negara-negara Teluk setiap satu atau dua hari telah melampaui kapasitas produksi tahunan Amerika Serikat. Dalam waktu hanya dua hari, negara-negara tersebut diperkirakan telah mengonsumsi sekitar 800 rudal pencegat PAC-3 atau THAAD. Sebagai perbandingan, produsen Lockheed Martin hanya mampu memproduksi sekitar 600 rudal PAC-3 per tahun, sementara produksi sistem THAAD jauh lebih rendah dari angka tersebut. Ketimpangan ini memaksa negara-negara Teluk untuk mulai melakukan rasionalisasi penggunaan rudal mereka dan terpaksa harus memilih lokasi-lokasi tertentu saja yang akan diprioritaskan untuk dipertahankan.
Kondisi “perang atrisi” ini menempatkan Iran dalam posisi strategis yang diuntungkan berkat ketersediaan drone murah yang masif dibandingkan dengan rudal pencegat Barat yang sangat mahal dan terbatas. Dengan persediaan rudal pencegat yang menipis secara drastis dalam waktu singkat, kemampuan Amerika Serikat dan sekutunya untuk melindungi infrastruktur vital dan pangkalan militer mereka kini berada di titik nadir. Para fuqaha dan pimpinan militer di Teheran sebelumnya telah menegaskan bahwa pertahanan mosaik Iran akan terus menekan hingga kekuatan agresor tidak lagi memiliki pilihan selain menghentikan operasi militer mereka di kawasan Timur Tengah.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Los Angeles Times


