Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan respons keras secara langsung terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meragukan kredibilitas data pemerintah Teheran. Melalui pernyataan resmi di akun media sosialnya pada Jumat, 20 Februari 2026, Abbas Araghchi menegaskan bahwa siapa pun yang mempertanyakan validitas data Iran harus mampu menunjukkan bukti tandingan yang nyata. Sebagai bentuk transparansi kepada publik, pemerintah Iran sebelumnya telah memublikasikan daftar lengkap berisi 3.117 nama korban operasi teroris yang terjadi baru-baru ini, di mana jumlah tersebut mencakup sekitar 200 anggota pasukan keamanan yang tewas dalam tugas. Abbas Araghchi menyatakan bahwa daftar tersebut adalah fakta yang tidak bisa dibantah begitu saja dengan retorika politik tanpa dasar bukti yang jelas.
Di tengah memanasnya adu argumen antara Teheran dan Washington, Rusia secara terbuka memperkuat dukungannya terhadap Iran melalui jalur diplomasi tingkat tinggi. Kementerian Luar Negeri Rusia mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov telah mengadakan pembicaraan telepon dengan Abbas Araghchi pada Jumat, 20 Februari 2026, untuk membahas perkembangan terbaru mengenai isu nuklir. Dalam percakapan tersebut, Sergey Lavrov menegaskan posisi Rusia yang mendukung penuh proses negosiasi demi mencapai solusi yang adil. Rusia menekankan bahwa segala bentuk kesepakatan harus menghormati hak-hak sah Iran dalam mengembangkan program nuklirnya, terutama karena Teheran tetap konsisten menyatakan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Sergey Lavrov juga menyampaikan kritik tajam terhadap tindakan militer Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya menyerang situs nuklir Iran pada tahun lalu. Dalam sebuah wawancara dengan media internasional, ia menyebut agresi tersebut sebagai tindakan yang sangat berbahaya dan provokatif bagi stabilitas global. Melalui koordinasi telepon ini, Moskow dan Teheran tampak semakin solid dalam menyelaraskan pandangan mereka mengenai aspek teknis dan legalitas internasional guna menghadapi tekanan militer yang terus dilancarkan oleh pemerintahan Donald Trump. Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran tidak berdiri sendirian dalam menghadapi ultimatum yang ditetapkan oleh Washington terkait masa depan program nuklirnya.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



