Skip to main content

Sejak invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982, perlawanan tetap berada di garis depan peristiwa sebagai faktor konstan dalam seluruh persamaan konflik. Pada saat musuh berusaha memaksakan rumusan penundukan jangka panjang, dari jantung wilayah selatan Lebanon lahir sebuah respons berbeda—sebuah kehendak yang tidak diukur dari senjata atau kemampuan logistik, melainkan dari kesadaran, keterikatan pada tanah, dan kemampuan mengubah penindasan menjadi tindakan sejarah berkelanjutan.

Perlawanan tidak muncul dari kehampaan, dan tidak pula sekadar reaksi spontan terhadap pendudukan. Ia tumbuh dari kebutuhan rakyat untuk melindungi rumah mereka dan menjaga martabat mereka. Tahun-tahun pasca-invasi berubah menjadi laboratorium keras yang membentuk kesadaran, identitas, dan pengambilan keputusan. Pengalaman itulah yang kemudian menuntun pada pembebasan tahun 2000, diikuti keteguhan yang menentukan dalam Perang Juli 2006—peristiwa yang meruntuhkan mitos “tentara yang tak dapat dikalahkan” dan menetapkan persamaan deterensi baru di kawasan.

Pembebasan tersebut merupakan momen nasional Lebanon yang khas, namun pada saat yang sama berubah menjadi peristiwa Arab dan internasional besar yang membuktikan bahwa pendudukan dapat dikalahkan dan bahwa keunggulan militer tidak menyematkan imunitas bagi penjajah terhadap kehendak rakyat. Sejak awal, musuh memahami besarnya perubahan yang dihasilkan oleh perlawanan, sehingga ia berulang kali menggunakan pembunuhan terarah, perang kilat, dan upaya memukul basis dukungan dengan harapan dapat menghentikan akumulasi kekuatan atau mengganggu bangunan keputusan perlawanan.

Ketika lanskap kawasan berubah, operasi “Banjir Al-Aqsa” dan dampak politik serta militernya menegaskan satu kebenaran sentral: seluruh proyek deterensi Israel dan seluruh taruhan internasional maupun regional untuk melemahkan perlawanan atau mengubah aturan keterlibatan hanya menghasilkan komitmen yang semakin kuat terhadap pilihan tersebut. Semakin jelas bahwa perlawanan menjadi lebih teguh, sementara musuh tenggelam dalam kegoncangan internal yang mendalam—militer, politik, dan sosial.

Dalam konteks inilah gugurnya Komandan Sayyid Abu Ali al-Tabatabai memperoleh maknanya. Ia termasuk orang-orang yang memahami bahwa jalan perlawanan penuh dengan pengorbanan, namun justru merupakan satu-satunya jalan untuk mempertahankan tanah dan menjaga identitas. Kesyahidannya, seperti syahid para komandan yang mendahuluinya, menjadi bukti baru bahwa pembunuhan tokoh-tokoh kunci tidak dan tidak akan mampu menghancurkan proyek perlawanan; sebaliknya, hal tersebut justru memperkuat kehadirannya dan mengungkap kegagalan berulang musuh dalam perhitungan yang bertumpu pada asas pembunuhan sebagai alat untuk mengubah keseimbangan kekuatan.

Yang membedakan perlawanan di Lebanon adalah bahwa ia tidak pernah menjadi proyek militer semata, tetapi telah berkembang menjadi sistem nilai yang menyeluruh. Kesabaran, keikhlasan, kesadaran, serta keyakinan pada kesucian tanah bukanlah slogan, melainkan unsur dasar pembentuk kekuatan. Dari perpaduan inilah kekuatan perlawanan bersumber, dan dari kesadaran rakyat yang mendalam inilah tumbuh lingkungan pendukung yang, selama puluhan tahun, terbukti menjadi bagian integral dari perjuangan.

Sejak 1982 hingga hari ini, alat-alat konflik telah berubah secara dramatis. Musuh telah mengembangkan persenjataannya dan memperoleh dukungan internasional yang luas, namun tetap tidak mampu menembus unsur paling mendasar dari persamaan perlawanan: rakyat. Rakyat yang mengetahui mengapa mereka melawan, untuk siapa mereka berjuang, dan apa arti menyerahkan tanah mereka kepada penjajah. Dalam catatan sejarah, kemenangan selalu berpihak pada mereka yang memiliki tujuan jelas dan cita-cita yang teguh, bukan pada mereka yang sekadar memiliki persenjataan paling canggih.

Dekade-dekade yang lalu telah membuktikan bahwa kehendak untuk melawan bukanlah kehendak sesaat, dan tidak tunduk pada kalkulasi momentum. Ia adalah kehendak kumulatif yang tumbuh setiap kali diuji, mengeras setiap kali ingin dipatahkan, dan diperbarui setiap kali mendapat serangan. Setiap persimpangan membuktikan bahwa alternatif dari perlawanan bukanlah “perdamaian” atau stabilitas, melainkan penyerahan diri kepada realitas yang dipaksakan oleh sebuah pendudukan yang bertumpu pada kekuatan brutal, kolusi asing, dan kaki tangan lokal.

Empat dekade setelah invasi, perlawanan tidak lagi menjadi respons, melainkan proyek komprehensif dengan identitas, visi, dan dukungan rakyatnya sendiri. Musuh kini berhadapan dengan kebenaran yang selama ini coba diingkarinya: bahwa perlawanan bukan tubuh yang dapat dibunuh, melainkan ruh yang tak dapat dilenyapkan. Ruh sebuah bangsa yang tidak dapat dikalahkan karena mereka menolak untuk menerima kekalahan. Ada yang bertaruh pada kekuatan, dan ada yang bertaruh pada kehendak.

Dan dari keseluruhan pengalaman panjang itu, satu makna menjadi terang—bukan slogan politik, melainkan realitas yang dialami:

Perlawanan adalah sebuah kehendak yang tak dapat dipatahkan.

Sumber opini: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera