Skip to main content

Sekretaris Jenderal Hizbullah Syaikh Naim Qassem menegaskan bahwa Lebanon memiliki kekuatan besar yang bersumber dari rakyat, letak geografis, serta kemampuan teknis yang mampu menjadikannya sebuah negara maju. Dalam pidatonya saat meresmikan Pusat Medis Lebanon di Hadath, Syaikh Naim Qassem menekankan bahwa akar masalah utama yang menghambat kemajuan Lebanon saat ini adalah agresi Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung selama sekitar lima belas bulan. Menurut Syaikh Naim Qassem, serangan ini bukan sekadar konflik militer biasa, melainkan upaya sistematis untuk melenyapkan opsi perlawanan serta merusak kedaulatan dan kemandirian negara. Syaikh Naim Qassem memuji Lebanon sebagai contoh nyata negara yang mampu membebaskan tanahnya sendiri dan tetap tegak berdiri melalui pengorbanan besar, meskipun harus menghadapi musuh yang mengandalkan kekuatan militer, pendudukan, serta kejahatan genosida demi ambisi perluasan wilayah mereka.

Syaikh Naim Qassem membeberkan bahwa kekuatan-kekuatan besar dunia yang dipimpin oleh Amerika Serikat telah mengerahkan berbagai bentuk tekanan terhadap Pemerintah Lebanon dan militernya agar melucuti senjata perlawanan. Salah satu upayanya adalah mencoba menyeret pemerintah ke dalam keputusan tanggal lima Agustus terkait monopoli senjata oleh negara saja. Namun, Syaikh Naim Qassem menekankan bahwa strategi ini gagal total karena tidak memiliki legitimasi dan melanggar hak konstitusional warga negara untuk membela diri. Berkat kesadaran kolektif antara pihak tentara, rakyat, dan pihak perlawanan, segala upaya adu domba berhasil digagalkan sebelum berkembang menjadi fitnah atau konflik internal yang lebih luas di dalam negeri.

Dalam dinamika politik dalam negeri, Syaikh Naim Qassem mengungkapkan bahwa upaya untuk memecah belah hubungan antara Hizbullah dan Gerakan Amal telah menemui jalan buntu. Aliansi kedua belah pihak disebut oleh Syaikh Naim Qassem sudah berakar sangat dalam, yang dibuktikan melalui pertemuan rutin dengan Ketua Parlemen Nabih Berri guna membahas percepatan pembangunan kembali serta persiapan pemilihan umum agar tetap berlangsung tepat pada waktunya. Syaikh Naim Qassem juga memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mencoba menciptakan keretakan antara pihak perlawanan dengan Kepresidenan Republik Lebanon. Syaikh Naim Qassem menegaskan bahwa hubungan mereka dengan Presiden tetap solid dalam visi yang sama untuk menghentikan agresi, membebaskan wilayah yang diduduki, dan menolak segala bentuk perpecahan nasional, serta mengingatkan agar tidak ada yang mencoba mengadu domba di antara mereka.

Di sisi lain, Syaikh Naim Qassem mengecam tindakan keji militer Israel yang tidak hanya menyasar warga sipil tetapi juga melakukan kejahatan terhadap alam sekitar dan pertanian dengan menyemprotkan pestisida beracun di lahan pertanian Lebanon. Tindakan ini dinilai oleh Syaikh Naim Qassem sebagai usaha putus asa untuk menghancurkan sumber kehidupan dan menciptakan perpecahan sosial di masyarakat. Namun, Syaikh Naim Qassem menyatakan bahwa rakyat Lebanon saat ini justru jauh lebih kuat dan lebih berkomitmen pada jalur perlawanan dibandingkan sebelum terjadinya pertempuran Uli al-Baas. Ketahanan ini dianggap oleh Syaikh Naim Qassem sebagai jaminan bahwa Lebanon tidak akan pernah hilang dari peta negara merdeka, karena menyerah hanya akan berarti penghapusan identitas bangsa secara total.

Menatap masa depan, Syaikh Naim Qassem menyerukan dua fokus utama bagi Pemerintah Lebanon yaitu menghentikan agresi sepenuhnya dengan segala persyaratannya dan memulihkan negara dari krisis keuangan, ekonomi, serta sosial yang berat. Syaikh Naim Qassem secara khusus menghargai kunjungan Perdana Menteri ke wilayah Lebanon Selatan dan menegaskan bahwa proses pembangunan kembali harus segera dimulai tanpa perlu menunggu perang berakhir sepenuhnya. Syaikh Naim Qassem juga memberikan perhatian khusus pada kota Tripoli dengan mendesak pemerintah agar segera menangani masalah bangunan yang terancam runtuh dan memberikan dukungan nyata bagi warga di sana. Bagi Syaikh Naim Qassem, memperjuangkan nasib rakyat Tripoli dan membangun kembali wilayah Selatan adalah tanggung jawab nasional yang harus dipikul bersama sebagai satu kesatuan bangsa yang utuh.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: i24NEWS