Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengirimkan pesan langsung yang sangat tegas kepada Washington dengan menekankan bahwa kebijakan ancaman dan pengerahan kekuatan militer tidak akan pernah berhasil memengaruhi keputusan kedaulatan negaranya. Araqchi menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak menerima perintah dari pihak mana pun dan tidak akan tunduk pada tekanan eksternal. Menurutnya, kekuatan Iran dibangun di atas prinsip kemandirian dan penolakan terhadap hegemoni, yang telah menjadi fondasi kokoh kebijakan luar negeri mereka sejak kemenangan Revolusi Islam 47 tahun lalu.

Araqchi menjelaskan bahwa penumpukan militer Amerika Serikat di kawasan baru-baru ini sama sekali tidak menakuti Iran. Ia menggarisbawahi bahwa negaranya tidak berupaya memiliki senjata nuklir. Menurutnya, yang sebenarnya dikhawatirkan oleh musuh-musuh Iran bukanlah “bom nuklir hantu”, melainkan kemampuan Teheran untuk berdiri tegak melawan negara-negara adidaya dan menolak setiap dikte yang dipaksakan. Ia menambahkan bahwa meskipun Iran berkomitmen pada jalur diplomasi dan dialog, mereka tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman atau posisi ditekan.

Mengenai isu krusial dalam perundingan, Araqchi menyatakan bahwa pengayaan uranium adalah hak kedaulatan yang tidak dapat dilepaskan. Ia menegaskan bahwa desakan Iran untuk mempertahankan hak tersebut bukan karena tujuan militer, melainkan berasal dari keyakinan teguh bahwa kemerdekaan sejati berarti mengambil keputusan tanpa perwalian dari pihak luar. Iran mengeklaim tidak mencari perang, namun sangat siap menghadapinya. Kombinasi antara diplomasi dan kemampuan untuk memberikan respons militer inilah yang dinilai Iran sebagai pencegah bagi pihak lain yang ingin memaksakan kehendak melalui kekerasan.

Sementara itu, proses negosiasi tidak langsung di Muscat antara Washington dan Teheran saat ini berada dalam situasi yang membingungkan. Di satu sisi, terdapat pesan-pesan yang memuji atmosfer diskusi yang positif, namun di sisi lain, Amerika Serikat terus mengaktifkan alat tekanan militer dan ekonomi di latar belakang. Pengamat melihat adanya risiko “penipuan” dari pihak Amerika Serikat, di mana sinyal de-eskalasi bercampur dengan pesan eskalasi berkelanjutan. Situasi semakin rumit dengan langkah politik Tel Aviv yang terburu-buru untuk memblokir setiap pemahaman diplomatik yang tidak sesuai dengan visi keamanan regional mereka.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: CGTN