Skip to main content

Pemerintah pendudukan Israel memasukkan angka yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah anggaran mereka: 2,7 miliar shekel, yang digelontorkan oleh Menteri Keuangan ekstremis Bezalel Smotrich. Dana raksasa ini diarahkan untuk menciptakan realitas keamanan dan permukiman baru di Tepi Barat bagian utara—realitas yang akan sulit dibalik oleh pemerintahan Israel mana pun di masa depan.

Ekonom Jafar Sadqa menjelaskan bahwa anggaran ini bukanlah pengecualian. Menurutnya, kubu kanan-ekstrem menyetujui penggunaan dana dari sumber tertentu sebagai barter politik demi menjalankan agenda mereka di Tepi Barat. Di lapangan, rencana ini berarti pemindahan tiga pangkalan militer ke kawasan utara Tepi Barat, termasuk ke situs arkeologi Tarsalah. Markas satu brigade dan dua pangkalan lainnya juga akan digeser ke wilayah yang sama untuk memperkuat cengkeraman militer sekaligus membuka jalan bagi kembalinya para pemukim secara “aman”.

Smotrich juga mengumumkan pendirian kantor khusus untuk pendaftaran tanah di Tepi Barat, sebuah langkah hukum yang memindahkan registrasi lahan dari Administrasi Sipil ke lembaga baru di bawah kendali langsung pendudukan. Targetnya adalah menata ulang sekitar 60.000 dunam sebelum tahun 2030—langkah yang para analis nilai sebagai upaya memperkuat klaim teritorial secara permanen.

Peneliti politik Nizar Nazzal menilai bahwa 2,7 miliar shekel ini bukan sekadar anggaran keamanan. Menurutnya, Smotrich berusaha menciptakan kondisi yang membuat setiap pemerintah Israel setelah ini tidak mungkin bergerak ke arah proses politik. Dengan kata lain, perluasan permukiman bukan isu keamanan semata, melainkan proyek ideologis yang sengaja dirancang untuk mengubur kemungkinan solusi politik.

Dalam paket rencana tersebut, 1,1 miliar shekel dialokasikan untuk memperkuat permukiman yang sudah ada dan melegalkan puluhan outpost, lengkap dengan pembangunan infrastruktur penuh: air, listrik, sanitasi, gedung publik, hingga layanan umum. Sebanyak 300 juta shekel disiapkan untuk membangun permukiman baru dan memperbaiki yang lama, sementara angka tambahan mengalir ke dewan lokal serta otoritas-otoritas permukiman di seluruh Tepi Barat.

Salah satu fokus penempatan infrastruktur baru adalah situs arkeologi yang berdiri di puncak bukit di wilayah utara Tepi Barat. Rencana Smotrich menjadikannya pangkalan militer—langkah yang menurut para pengamat dimaksudkan untuk memastikan kembalinya para pemukim. Smotrich sadar sepenuhnya bahwa menghadirkan kembali pemukim di jantung wilayah Jenin akan sangat berbahaya tanpa keberadaan kekuatan militer yang masif.

Dalam konteks sejarah, tanggal 8 Desember 1987 menjadi pengingat bahwa kondisi “biasa” dapat berubah menjadi ledakan besar. Pagi yang tampak normal itu berubah ketika seorang sopir Israel menabrakkan truknya ke sekelompok pekerja Palestina dekat pos Erez. Insiden tersebut memicu Intifada Pertama—Intifada Batu—yang pada akhirnya memaksa Israel mengakui PLO sebagai wakil sah rakyat Palestina dan menegosiasikan kesepakatan dengan Yasser Arafat.

Penulis dan analis Khalil Shaheen menilai bahwa Intifada Pertama merupakan ekspresi kolektif rakyat Palestina untuk melanjutkan perlawanan terhadap pendudukan. Ia menekankan bahwa saat itu tidak ada krisis ekonomi besar seperti sekarang, artinya inti masalahnya benar-benar soal nasional dan pembebasan. Pelajaran terpentingnya, kata dia, adalah bahwa peran massa harus kembali menjadi poros perjuangan.

Meski ada yang berpendapat bahwa Tepi Barat saat ini tidak siap untuk Intifada baru, realitas di lapangan menunjukkan arah yang berlawanan. Tekanan, agresi, perampasan tanah, pencurian sumber daya oleh pendudukan dan para pemukim—semuanya justru membuat kemungkinan ledakan semakin dekat, bahkan menurut lembaga keamanan Israel sendiri.

Anggota Komite Eksekutif PLO, Ramzi Rabah, mengatakan bahwa negara pendudukan percaya bahwa semakin besar represinya, semakin kecil kemungkinan munculnya perlawanan rakyat. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya: semua indikator menunjukkan tingkat kesiapan masyarakat yang tinggi untuk sebuah pemberontakan baru. Represi yang dimaksudkan untuk mencegah ledakan, pada akhirnya hanyalah bensin yang menunggu percikan.

Dalam sejarah revolusi rakyat, situasi tidak pernah meledak sesuai teori atau kurva yang bisa diprediksi. Gejolak besar biasanya muncul tiba-tiba, dari bawah abu yang selama ini tampak diam, dan ketenangan hampir selalu menjadi tanda bahwa badai sedang mengumpulkan kekuatannya.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Jordan News Agency