Skip to main content

Komandan Angkatan Ruang Angkasa Korps Garda Revolusi Islam di Iran, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menegaskan pada Rabu, 14 Januari 2026 bahwa pasukannya telah sepenuhnya bersiap untuk menghadapi agresi apa pun. Dalam pernyataan resminya, Brigadir Jenderal Majid Mousavi mengungkapkan bahwa persediaan rudal Iran saat ini justru lebih besar dibandingkan sebelum terjadinya agresi Amerika-Israel. Ia juga memastikan bahwa seluruh kerusakan pada peralatan Angkatan Ruang Angkasa yang terjadi selama perang 12 hari telah berhasil diperbaiki sepenuhnya. Ketegasan ini muncul di tengah ancaman berulang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan niatnya untuk menyerang Teheran dengan dalih melindungi pengunjuk rasa di Iran.

Kekhawatiran terhadap kekuatan Iran juga diakui oleh pihak lawan. Brigadir Jenderal (Purn.) Ran Kochav, mantan komandan sistem pertahanan udara sekaligus mantan juru bicara tentara pendudukan Israel, mengakui kemampuan Republik Islam Iran dalam menimbulkan kerusakan serius terhadap entitas Zionis. Saat berbicara melalui stasiun radio Zionis 104.5, Ran Kochav memperingatkan agar ancaman Iran tidak diremehkan. Ia mencoba menenangkan opini publik dengan menyerukan pengurangan retorika yang berlebihan, namun tanpa mengabaikan realitas di lapangan. Menurutnya, perang bukanlah perkara mudah dan hanya diambil sebagai jalan terakhir. Ran Kochav pun merujuk pada dampak perang baru-baru ini yang menimbulkan korban dan kerusakan di wilayah utara seperti Haifa, wilayah selatan di Rumah Sakit Soroka, hingga wilayah pusat di Institut Weizmann.

Ran Kochav menambahkan bahwa setelah tujuh bulan perang berjalan, pihaknya telah melakukan investigasi mendalam terkait keberhasilan dan kegagalan militer. Ia menekankan bahwa tidak ada ruang untuk berpuas diri karena Israel hanya bisa mengandalkan kekuatan militer, pertahanan udara, dan intelijennya sendiri dalam menghadapi ancaman 360 derajat yang mencakup Lebanon, Suriah, Irak, Iran, Yaman, dan Tepi Barat. Lebih lanjut, ia menyoroti krisis personel di mana tentara Israel membutuhkan sekitar 15.000 tambahan tentara tempur dalam beberapa tahun ke depan. Ia memperingatkan bahwa masa depan Israel akan sangat bermasalah jika tidak segera mengintegrasikan kaum Haredim dan warga Arab ke dalam dinas militer atau layanan nasional, agar beban pertahanan tidak hanya dipikul oleh satu kelompok masyarakat saja.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan respons resmi pertama atas seruan kekerasan oleh Presiden Amerika Serikat. Ali Larijani melancarkan serangan verbal langsung dengan menyebut Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sebagai pembunuh utama rakyat Iran. Melalui unggahannya di platform X, Ali Larijani menegaskan bahwa identitas utama pelaku kejahatan terhadap rakyat Iran adalah Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Otoritas Iran mengindikasikan bahwa aksi protes ekonomi yang awalnya damai telah disusupi oleh perusuh yang diatur oleh kelompok teroris dan separatis atas dukungan Mossad serta Amerika Serikat. Teheran mengklaim memiliki bukti kuat bahwa seruan Donald Trump merupakan bentuk hasutan kekerasan yang nyata, bukan dukungan terhadap demokrasi.

Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa turut mendesak Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal untuk mengutuk campur tangan Amerika Serikat serta ancaman penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan mereka. Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeed Irvani, menyatakan dalam surat resminya bahwa Amerika Serikat dan rezim Israel memikul tanggung jawab hukum langsung atas tewasnya warga sipil yang tidak berdosa, terutama kaum muda. Amir Saeed Irvani menegaskan bahwa Washington sengaja menggunakan sanksi dan memicu kerusuhan internal sebagai dalih untuk melakukan intervensi militer.

Di sisi lain, suara kritis juga muncul dari internal Amerika Serikat. Senator Bernie Sanders pada Selasa, 13 Januari 2026 malam menyatakan bahwa intervensi militer di Iran bukanlah sebuah solusi karena sejarah telah membuktikan kegagalan pola tersebut. Bernie Sanders berpendapat bahwa Washington seharusnya mendukung aspirasi rakyat Iran melalui jalur diplomasi, bukan melalui moncong senjata. Senada dengan hal itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Selasa, 13 Januari 2026 menegaskan bahwa Iran berada dalam posisi siap untuk perang maupun negosiasi, sembari menuding Washington dan Tel Aviv sengaja memperkeruh situasi demi mencari alasan untuk mengintervensi Iran.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Jerusalem Post