Skip to main content

Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mendesak Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) untuk segera membatalkan keputusan “pemutusan kontrak kerja karyawan yang sedang berada di luar Jalur Gaza.” Hamas menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan tidak adil dan pelanggaran berat terhadap hak-hak dasar pekerja. Sebelumnya, UNRWA mengumumkan pemecatan segera terhadap staf lokal kantor Gaza yang saat ini berada di luar wilayah tersebut dengan alasan krisis keuangan yang parah. Hamas menegaskan bahwa para karyawan tersebut tidak bisa kembali bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena blokade total dan penutupan penyeberangan Rafah oleh otoritas pendudukan Israel.

Kondisi kemanusiaan di dalam Jalur Gaza sendiri semakin kritis, terutama bagi bayi prematur dan bayi baru lahir. Ziad al-Masri, konsultan pediatrik di Kementerian Kesehatan, melaporkan bahwa puluhan bayi di unit inkubator menghadapi risiko kematian akibat kelangkaan obat-obatan dan susu formula medis. Masalah utama yang dihadapi adalah seringnya pemadaman listrik yang menyebabkan generator dan pompa oksigen berhenti bekerja, padahal alat-alat tersebut merupakan penyambung nyawa bagi bayi-bayi di unit perawatan intensif neonatal.

Di sisi lain, situasi keamanan kian memburuk karena militer Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata melalui serangan artileri dan pesawat tak berawak (drone). Sebuah serangan udara dilaporkan menargetkan generator listrik di atas gedung pemukiman di lingkungan Tuffah, Kota Gaza, yang menyebabkan kebakaran dan melukai sejumlah warga sipil. Serangan artileri juga menghantam wilayah timur Khan Younis, sementara drone menjatuhkan bom di persimpangan Sheikh Nasser, yang dibarengi dengan penghancuran sejumlah rumah tinggal penduduk.

Hamas menyerukan agar UNRWA tetap fokus pada tugas utamanya memberikan bantuan kemanusiaan di tengah bencana yang melanda Gaza. Mereka juga meminta badan PBB tersebut untuk membangun posisi internasional yang solid guna menekan pihak pendudukan agar mencabut pembatasan terhadap operasi kemanusiaan, demi menyelamatkan nyawa warga Palestina yang terjepit di antara krisis logistik dan serangan militer yang terus berlanjut.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Daily Sabah