Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menegaskan posisi diplomatik yang keras dengan menyatakan bahwa integritas teritorial Ukraina, Jalur Gaza, dan Venezuela merupakan prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan. Melalui pernyataan resminya, Sanchez menekankan bahwa penghormatan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara adalah fondasi fundamental hukum internasional yang harus ditegakkan secara setara tanpa tebang pilih. Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas tindakan militer Amerika Serikat di Venezuela serta komentar kontroversial Presiden Donald Trump yang mengungkit kepentingan strategis AS atas Greenland demi alasan keamanan nasional. Sanchez secara tegas menolak retorika tersebut dan menyatakan solidaritas penuh Spanyol terhadap Denmark serta rakyat Greenland, sembari menegaskan komitmen aktif negaranya terhadap prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Langkah diplomatik Spanyol ini diperkuat dengan penerbitan pernyataan bersama lintas benua yang melibatkan kekuatan regional utama seperti Brasil, Kolombia, Meksiko, Uruguay, dan Chile. Keenam negara tersebut secara kolektif menyatakan penolakan mutlak terhadap operasi militer unilateral yang dilakukan Amerika Serikat di wilayah Venezuela. Dalam dokumen yang disebarluaskan oleh otoritas Spanyol, aliansi ini menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa aksi militer tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB, khususnya mengenai larangan penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional.
Negara-negara penandatangan tersebut menegaskan bahwa krisis di Venezuela hanya dapat diselesaikan melalui jalur damai, yakni lewat dialog dan negosiasi yang menghormati kehendak bebas rakyat Venezuela tanpa campur tangan eksternal. Dengan menolak campur tangan militer, Spanyol dan sekutu Amerika Latin-nya berupaya membendung dampak sistemis dari kebijakan luar negeri AS yang dianggap semakin agresif. Mereka menekankan bahwa penegakan hukum internasional adalah satu-satunya cara untuk mencegah kekacauan global yang lebih luas, terutama ketika kedaulatan negara-negara berdaulat mulai diabaikan demi kepentingan strategis kekuatan besar.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Anadolu Agency


