Venezuela dengan tegas mengecam blokade ekonomi, komersial, dan finansial yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Kuba, menyebutnya sebagai tindakan agresi yang berkelanjutan terhadap negara berdaulat.
Berbicara di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Duta Besar Venezuela Samuel Moncada menyerukan kepada komunitas internasional untuk menuntut diakhirinya kebijakan sepihak yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade tersebut.
Pidato Moncada disampaikan menjelang pemungutan suara tahunan atas rancangan resolusi bertajuk “The Necessity of Ending the Economic, Commercial and Financial Blockade Imposed by the United States of America Against Cuba.”
“Blokade ini adalah bentuk perang ekonomi yang bertujuan menundukkan seluruh bangsa melalui kelaparan, penyakit, dan kematian,” tegas Moncada.
Ia memperingatkan bahwa upaya Washington menggambarkan blokade tersebut sekadar sebagai kebijakan biasa adalah menyesatkan, sebab pada kenyataannya tindakan itu melanggar hukum internasional dan merupakan bentuk hukuman kolektif.
Menurut diplomat Venezuela itu, blokade AS telah menyebabkan kerugian lebih dari 7,5 miliar dolar AS bagi Kuba hanya dalam setahun terakhir, menghantam sektor-sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, energi, dan pangan.
Moncada menilai bahwa langkah koersif ini merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk mempertahankan hegemoni AS di kawasan Amerika Latin dan melemahkan kedaulatan negara-negara yang independen.
Ia juga mengecam kampanye fitnah yang dipimpin AS terhadap dokter-dokter Kuba serta tekanan terhadap negara-negara Karibia dan Afrika agar menolak kerja sama medis dengan Havana.
“Sementara sebagian negara mengirim bom dan senjata, Kuba mengirim tenaga medis,” ujar Moncada.
“Kuba mengirim dokter, dan karena itulah ia diserang — karena teladannya membongkar kemunafikan mereka yang mengaku membela kebebasan namun memblokade bangsa lain dan mendukung genosida terhadap seluruh rakyat.”
Moncada menegaskan bahwa Venezuela sendiri juga menjadi korban sanksi sepihak dan langkah koersif serupa dari Washington, yang menurutnya dirancang untuk mengguncang pemerintahan sah negara-negara berdaulat.
Ia turut menolak upaya AS mengaitkan Kuba dengan konflik di Ukraina, menyebutnya sebagai disinformasi yang direkayasa di laboratorium media Departemen Luar Negeri AS.
Lebih lanjut, Moncada mengecam keputusan Washington yang masih memasukkan Kuba ke dalam daftar negara sponsor terorisme, menyebutnya sebagai “penghinaan terhadap kebenaran dan sejarah.”
“Kuba tidak mensponsori terorisme — sebaliknya, ia telah menjadi korban langsung dari serangan, sabotase, dan agresi yang dirancang dari wilayah AS sendiri,” ungkapnya.
Menutup pidatonya, Moncada memperingatkan bahwa kebijakan luar negeri AS secara terang-terangan melanggar Deklarasi Zona Damai (Zone of Peace) yang diadopsi oleh Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC), sebuah komitmen regional untuk non-intervensi dan hidup berdampingan secara damai.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Con El Mazo Dando


