Skip to main content

Jalur Gaza kembali melewati hari yang sangat kelam pada Senin, 2 Februari 2026. Lima warga Palestina, termasuk seorang balita berusia tiga tahun bernama Iyad Ahmed Naeem Al-Raba’i’a, tewas akibat serangkaian pelanggaran berat yang dilakukan militer Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata. Serangan tersebut meliputi penembakan dari kapal perang yang menyasar tenda-tenda pengungsi di wilayah Khan Younis, pengeboman sebuah rumah duka di kamp Nuseirat, serta tembakan senjata berat di wilayah timur Jabalia. Eskalasi ini membuktikan ketidakpatuhan total pihak militer Israel terhadap kesepakatan damai yang ada dan memicu ketakutan luar biasa di kalangan warga sipil yang mengungsi.

Sumber medis mengonfirmasi bahwa selain balita Iyad yang tewas terkena tembakan kapal perang, seorang pemuda bernama Ahmed Ayman Khamis dan warga bernama Ramadan Dardouna juga gugur dalam serangan di lokasi berbeda. Sejumlah warga lainnya menderita luka tembak di sekitar bundaran Bani Suheila dan Lapangan Enam Syuhada. Sementara di Jabalia Timur, kendaraan militer Israel dilaporkan merangsek masuk dan menembaki tenda-tenda pengungsi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban jiwa sejak dimulainya gencatan senjata kini telah mencapai 523 orang, dengan korban luka sebanyak 1.443 orang. Secara keseluruhan, sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023, total korban telah melonjak hingga 71.795 orang syahid dan 171.551 orang luka-luka.

Di tengah situasi yang kian mematikan, organisasi Doctors Without Borders atau MSF mengecam keras keputusan Israel yang memaksa penghentian seluruh aktivitas mereka di Gaza paling lambat pada 28 Februari 2026. MSF menilai langkah ini merupakan taktik licik untuk menghambat pengiriman bantuan medis dan kemanusiaan. Pihak militer Israel memaksa organisasi tersebut menyerahkan daftar lengkap nama staf Palestina tanpa memberikan jaminan keamanan, yang membuat organisasi kemanusiaan berada pada posisi mustahil: mempertaruhkan nyawa pekerjanya atau menghentikan layanan medis yang sangat dibutuhkan.

Perlu dicatat bahwa sepanjang tahun 2025, MSF telah menyediakan sekitar 800.000 konsultasi medis dan menangani sepertiga dari seluruh proses kelahiran di Gaza. Pengusiran paksa terhadap organisasi ini akan memberikan dampak yang sangat menghancurkan bagi sistem kesehatan Gaza yang sudah lumpuh. Hingga saat ini, sebanyak 15 staf MSF dan 1.700 tenaga kesehatan telah gugur akibat serangan Israel sejak Oktober 2023, di samping banyaknya kasus penangkapan dan intimidasi. Serangan yang terus berlanjut ini semakin memperparah penderitaan rakyat Gaza, di tengah tuntutan internasional yang mendesak perlindungan bagi warga sipil serta pembukaan blokade bantuan medis tanpa syarat.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: TRT World