Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melakukan pembicaraan telepon penting dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, pada Minggu, 28 Desember 2025. Dalam percakapan tersebut, kedua diplomat senior ini membahas penguatan hubungan bilateral serta perkembangan krusial di kawasan. Araqchi secara khusus menyoroti eskalasi yang terjadi di Yaman Selatan dengan menegaskan kembali pentingnya menjaga persatuan dan integritas wilayah Yaman, serta mendesak segera diimplementasikannya peta jalan (roadmap) perdamaian secara menyeluruh. Menanggapi hal tersebut, Menlu Saudi menekankan perlunya pertanggungjawaban internasional atas agresi Israel di Lebanon dan menggarisbawahi pentingnya konsultasi berkelanjutan antarnegara kawasan untuk menjaga stabilitas demi mematuhi komitmen Perjanjian Beijing 2023.

Di saat yang sama, Abbas Araqchi juga berkomunikasi dengan Wakil Menteri Luar Negeri pemerintah Sana’a, Abdul Wahid Abu Ras. Dalam panggilan tersebut, Araqchi menyerukan dialog “Yaman-Yaman” antar semua faksi guna mencegah keberhasilan rencana musuh-musuh kawasan yang bertujuan melemahkan dan memecah belah negara tersebut. Ia menyambut baik kesepakatan terbaru terkait pertukaran tahanan antara pihak Yaman dan Saudi, namun menekankan bahwa solusi fundamental bagi krisis di Yaman hanya dapat dicapai melalui pencabutan blokade secara total serta aktivasi seluruh poin dalam peta jalan perdamaian. Sebaliknya, Abu Ras memperingatkan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh musuh-musuh Yaman saat ini hanya akan memperumit situasi keamanan dan mendestabilisasi kawasan lebih jauh.

Kondisi internal Yaman sendiri dilaporkan semakin memanas setelah Rashad Al-Alimi, kepala Dewan Kepemimpinan Kepresidenan, mendesak Dewan Transisi Selatan (STC) untuk menarik pasukannya dari Hadramawt dan Al-Mahra guna diserahkan kepada “Pasukan Perisai Tanah Air” dan otoritas lokal. Ketegangan ini telah memuncak menjadi konfrontasi militer terbuka; laporan media di Hadramawt menyebutkan bahwa pesawat tempur Arab Saudi melakukan pengeboman terhadap posisi Pasukan Elite Hadrami yang berafiliasi dengan STC (didukung UEA). Serangan udara ini terjadi setelah pasukan STC menyita kamp milik Aliansi Suku Hadramawt yang didukung oleh Saudi di wilayah timur Yaman. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, menegaskan bahwa setiap pergerakan militer yang melanggar upaya de-eskalasi akan ditindak secara tegas.

Di balik konflik perebutan wilayah dan pengaruh ini, muncul isu keterlibatan entitas Zionis yang memperburuk situasi. Media Israel melaporkan bahwa perwakilan dari Dewan Transisi Selatan (STC) telah melakukan kontak dengan pejabat-pejabat Israel sebagai bagian dari upaya mendapatkan dukungan regional dan internasional bagi agenda separasi mereka di Yaman Selatan. Dalam laporan tersebut, STC diklaim memberikan janji akan mengakui kedaulatan Israel secara resmi jika mereka berhasil memisahkan diri dari Republik Yaman. Perkembangan ini sejalan dengan langkah STC sebelumnya yang telah merebut kontrol atas kamp Brigade Mekanik ke-21 dan fasilitas minyak Al-Aqlah di Shabwa, yang menunjukkan ambisi kuat faksi tersebut untuk menguasai jalur strategis di Tanduk Afrika dan Laut Merah.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: IRNA