Skip to main content

Pemimpin gerakan Ansar Allah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa kehancuran entitas Israel merupakan sebuah keniscayaan yang tertuang dalam Al-Qur’an tanpa keraguan sedikit pun. Dalam ceramah Ramadan kesembilan yang disampaikan pada Kamis malam, 26 Februari 2026, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menekankan bahwa percepatan perwujudan janji tuhan ini, serta upaya pengurangan biaya kemanusiaan dan politiknya, sangat bergantung pada posisi serta tingkat tindakan bangsa dalam menghadapi situasi yang terjadi saat ini.

Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menunjukkan bahwa tirani dan penindasan Israel terlihat jelas dalam skala kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza. Ia menyoroti operasi militer yang terus berlanjut hingga menyebabkan jatuhnya banyak korban sipil serta kehancuran luas pada infrastruktur, rumah tinggal, dan fasilitas vital. Pelanggaran yang terus berlangsung, termasuk pengepungan, perluasan permukiman, dan penargetan warga sipil secara berulang, dianggap sebagai refleksi dari pendekatan berbasis hegemoni dan pemaksaan kehendak melalui kekerasan. Selain itu, ia juga menyoroti serangan yang terus dilakukan terhadap tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Palestina yang diduduki.

Lebih lanjut, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi berargumen bahwa besarnya kerugian yang diderita bangsa, baik dalam bentuk nyawa, tanah air, maupun kekayaan, sangat dipengaruhi oleh sikap resmi pemerintah dan gerakan populer. Menurutnya, langkah menuju normalisasi atau ketergantungan pada jalur yang disebut sebagai perdamaian tidak akan menghentikan pelanggaran, melainkan justru memperpanjang konflik dan meningkatkan biaya yang harus dibayar. Ia mengingatkan bahwa sejarah telah menjadi saksi jatuhnya kekuatan-kekuatan besar dan imperium yang mencapai puncak pengaruh militer serta ekonomi, namun akhirnya runtuh akibat ketidakadilan dan kesombongan.

Sayyid Abdul-Malik al-Houthi mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an mengenai dukungan terhadap kebenaran dan perlawanan terhadap tirani sebagai dasar argumennya. Ia menekankan bahwa realisasi dari janji-janji tersebut terkait erat dengan pilihan bangsa: apakah mereka akan mengambil posisi yang mempercepat berakhirnya konflik dan menekan biaya, atau justru mengambil pilihan yang memperlama penderitaan serta meningkatkan beban kerugian.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: İhlas News Agency