Skip to main content

Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dan sayap militernya, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, secara resmi mengumumkan gugurnya deretan pemimpin puncak dan simbol perjuangan mereka dalam Pertempuran Badai Al-Aqsa. Dalam pernyataan video yang dirilis pada Senin, 29 Desember 2025, Brigade Al-Qassam mengonfirmasi bahwa para komandan senior ini naik ke derajat syahid setelah adanya pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh pihak pendudukan Israel.

Nama-nama pemimpin besar yang dinyatakan gugur antara lain adalah Muhammad Sinwar (Abu Ibrahim), yang menjabat sebagai Kepala Staf Brigade Al-Qassam menggantikan syuhada Muhammad Deif. Selain itu, Muhammad Shabana (Abu Anas), Panglima Brigade Rafah, dinyatakan syahid bersama Muhammad Sinwar. Jajaran komando lainnya yang gugur adalah Hakam Al-Issa (Abu Omar), Kepala Departemen Senjata dan Layanan Tempur; Raed Saad (Abu Mu’adh), mantan kepala operasi dan pemimpin manufaktur militer; serta sosok yang paling dikenal secara global, Hudhaifa Al-Kahlout atau “Abu Ubaida”, juru bicara militer Al-Qassam dan kepala aparat media yang telah menjadi suara perlawanan selama dua dekade terakhir.

Hamas menegaskan bahwa para pemimpin ini merupakan sekolah kepemimpinan militer yang utuh dan telah meninggalkan jejak mendalam sejak berdirinya gerakan ini lebih dari tiga dekade lalu. Mereka disebut gugur saat berada di garis terdepan bersama rakyatnya di jantung pertempuran, memperkuat keteguhan perlawanan dalam menghadapi penindasan. Hamas menyatakan bahwa kejahatan pendudukan terhadap para pemimpin dan simbol Palestina tidak akan pernah berhasil mematahkan semangat atau menghentikan langkah perlawanan menuju kemerdekaan dan pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Dalam kemunculan perdananya, Juru Bicara Militer baru Brigade Al-Qassam—yang kini secara resmi mewarisi gelar “Abu Ubaida” dari pendahulunya—memberikan pidato yang menegaskan kesinambungan perjuangan. Ia menyampaikan bahwa Brigade Al-Qassam telah memberikan hal paling berharga yang mereka miliki sebagai respons atas panggilan Tuhan. Ia menekankan bahwa peristiwa 7 Oktober adalah ledakan melawan ketidakadilan dan blokade, yang berhasil menempatkan kembali isu Palestina di garis depan kesadaran dunia.

Juru bicara baru tersebut juga mengirimkan pesan politik yang tegas kepada pihak-pihak internasional. Ia mendesak agar fokus dunia diarahkan pada upaya melucuti senjata mematikan milik pendudukan Israel yang digunakan untuk pemusnahan massal, alih-alih meributkan senjata ringan milik rakyat Palestina yang digunakan untuk membela diri. Ia menegaskan bahwa perlawanan tidak akan menyerahkan senjata selama pendudukan masih ada dan akan terus memegang teguh janji yang diwariskan oleh Hudhaifa Al-Kahlout untuk melanjutkan perjalanan hingga hak-hak nasional Palestina diperoleh sepenuhnya.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera