Di tengah meningkatnya ancaman Amerika Serikat mengenai potensi agresi terhadap Iran, para sekutu regional Republik Islam tersebut semakin gencar menegaskan bahwa serangan apa pun terhadap Teheran tidak akan terbatas pada batas geografis negara itu saja, melainkan akan membuka pintu bagi konfrontasi multi-front yang lebih luas. Berbagai pesan politik dan militer yang dikeluarkan secara serentak oleh gerakan perlawanan di kawasan mencerminkan kesiapan untuk menghadapi potensi eskalasi dan mengindikasikan bahwa biaya dari “petualangan militer Amerika Serikat-Israel” akan ditanggung secara kolektif di tingkat regional pada Selasa, 27 Januari 2026.
Dalam konteks ini, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menekankan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap ancaman apa pun yang ditujukan kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Sayyid Ali Khamenei. Beliau menegaskan bahwa Hizbullah sangat peduli dengan apa yang sedang terjadi dan bertekad untuk melakukan pembelaan, sembari tetap memegang hak untuk memilih bentuk dan waktu intervensi sesuai dengan perkembangan situasi di lapangan. Di Yaman, sikap pro-Teheran tersebut berbarengan dengan pesan langsung melalui rilis rekaman serangan terhadap kapal tanker minyak Inggris Marlin Luanda di Teluk Aden oleh media militer Yaman. Langkah ini menandakan perluasan blokade maritim dan pengembangan kemampuan rudal lokal yang mencerminkan kesiapan Sana’a untuk terlibat dalam persamaan pencegahan regional terkait konfrontasi dengan Iran.
Di Irak, Sekretaris Jenderal Kataib Hezbollah Abu Hussein al-Hamidawi menyatakan dukungan teguh kelompoknya bagi Iran dalam segala kondisi, sembari memperingatkan Amerika Serikat bahwa perang melawan Iran tidak akan semudah yang dibayangkan dan akan menuntut harga yang sangat mahal. Selain itu, Kataib Sayyid al-Shuhada juga menegaskan kembali dukungan mereka bagi Republik Islam dan menyerukan otoritas Irak untuk mencegah penggunaan wilayah udara negara tersebut dalam serangan potensial apa pun, sebagai bentuk tanggung jawab nasional dan hukum.
Peneliti hubungan internasional Mohammed Hassan Sweidan berpendapat bahwa bahaya nyata dari intervensi Hizbullah bukan terletak pada gerakan itu sendiri, melainkan pada kekacauan yang dapat ditimbulkan jika konflik berubah menjadi konfrontasi penuh. Bagi Mohammed Hassan Sweidan, setiap langkah dari kekuatan perlawanan bukan hanya diartikan sebagai dukungan bagi Iran, melainkan sebagai pembelaan terhadap proyek besar yang menolak hegemoni dan kolonialisme, mengingat penargetan terhadap Republik Islam berarti menghantam pilar utama dari jalur perjuangan tersebut. Intervensi ini diprediksi akan meningkatkan biaya pertempuran dan memperluas cakupannya hingga melampaui konfrontasi antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat, hingga menjangkau seluruh arena di kawasan.
Mohammed Hassan Sweidan juga menunjukkan bahwa pidato terbaru Sheikh Naim Qassem membiarkan semua opsi terbuka, di mana skenario yang muncul akan bergantung pada tingkat aksi militer Amerika Serikat-Israel serta kemampuan Iran dalam menghadapi serangan. Beliau menekankan bahwa konfrontasi eksistensial ini tidak akan terbatas pada Iran saja, tetapi meluas ke ide pembebasan itu sendiri, yang dapat mendorong seluruh kekuatan perlawanan untuk terlibat sepenuhnya. Jika Hizbullah melakukan intervensi, hal tersebut dilakukan demi membela kepentingan Lebanon terlebih dahulu dan kepentingan seluruh rakyat di kawasan guna mencegah Amerika Serikat menyebarkan era kegelapan di bawah kendali Israel.
Dari perspektif Irak, penulis dan jurnalis Zaher Moussa menilai pernyataan Abu Hussein al-Hamidawi mewakili pergeseran kualitatif dalam eskalasi karena tidak hanya ditujukan kepada kelompok tertentu, tetapi mencakup seluruh warga Irak dengan mengingatkan kembali dukungan empat dekade Iran bagi perjuangan umat Muslim. Beliau menunjukkan bahwa pernyataan tersebut membuka peluang munculnya fatwa jihad defensif yang dapat meningkatkan tingkat konfrontasi menjadi lebih luas, di mana Iran dipandang sebagai basis perlindungan bagi kaum tertindas. Pergeseran ini mencerminkan kesiapan untuk konfrontasi non-konvensional yang melampaui operasi terbatas menjadi perang eksistensial, dengan mempertimbangkan kedalaman strategis Iran yang selama puluhan tahun berkontribusi pada stabilitas dan kesuksesan ekonomi Irak.
Sementara itu, anggota biro politik Ansar Allah di Yaman, Mohammed al-Farah, menempatkan potensi agresi terhadap Iran dalam kerangka yang melampaui batas negara dan geografi. Beliau menganggapnya sebagai agresi terhadap seluruh bangsa Islam serta pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Penargetan terhadap Iran dilihat sebagai awal dari eskalasi terbuka yang dampaknya akan meluas ke seluruh kawasan, serupa dengan apa yang terjadi pasca-agresi terhadap Afghanistan. Mohammed al-Farah menegaskan penolakan Yaman terhadap sikap netral dan menyatakan kesiapan untuk ronde masa depan, baik melalui penargetan langsung terhadap Yaman maupun pihak mana pun dalam poros perlawanan. Beliau menyatakan keyakinan atas kemampuan Iran dan sekutunya untuk merespons tanpa batas terhadap entitas Israel, pangkalan militer, kapal perang, serta kepentingan Amerika Serikat di jalur laut.
Pusat penelitian Barat dan regional, termasuk Institute for the Study of War (ISW), memperingatkan bahwa perang terhadap Iran tidak akan menjadi peristiwa yang lewat begitu saja, melainkan titik balik yang akan menggambar ulang peta Asia Barat secara keseluruhan. Ketegangan saat ini dapat menyebabkan konfrontasi berkepanjangan yang tidak terbatas pada satu serangan tunggal, dengan risiko eskalasi respons Iran terhadap target Amerika Serikat dan Israel di Teluk. Laporan media global juga memperingatkan bahwa serangan apa pun dapat berkembang menjadi perang skala penuh, di mana Iran telah mengonfirmasi bahwa setiap serangan akan diperlakukan sebagai perang total. Laporan ekonomi turut menyoroti bahwa pasar minyak global bereaksi cepat terhadap perkembangan ini, dengan harga minyak yang melonjak menyusul agresi terhadap Iran, serta kekhawatiran analis akan gangguan berkelanjutan pada produksi dan ekspor yang akan memukul ekonomi global secara signifikan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Luxembourg Times



