Pemerintah Israel menyetujui anggaran terbesar dalam sejarahnya, dengan anggaran 2026 mencapai sekitar 662 miliar shekel yang akan diajukan ke Knesset untuk mendapatkan persetujuan final. Perkiraan menunjukkan bahwa jika Knesset gagal mengesahkan anggaran sebelum Maret, parlemen dapat membubarkan diri dan menuju pemilu dini pada Juni 2026 alih-alih Oktober, sementara kepala pemerintahan Israel, Benjamin Netanyahu, tetap menyatakan optimismenya bahwa anggaran itu akan lolos.
Menurut media Israel, pemerintah sebelumnya diwarnai perselisihan tajam terkait anggaran Kementerian Pertahanan, sebelum pada Jumat pagi diumumkan tercapainya kesepakatan antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertahanan. Kementerian Keuangan semula mengusulkan alokasi 90 miliar shekel, sementara Kementerian Pertahanan menuntut 140 miliar shekel. Kesepakatan akhirnya tercapai di angka 112 miliar shekel.
Pengurangan anggaran pertahanan itu berkaitan, antara lain, dengan keputusan menurunkan jumlah serdadu cadangan menjadi sekitar 40.000 dari usulan awal 60.000 personel.
Di sisi lain, sebuah laporan di Substack yang ditulis Nate Beer dan dikutip Sharepost, berjudul “Former Israeli Spies Now Oversee US Government Cybersecurity,” mengungkap bahwa sebuah perusahaan yang terkait dengan intelijen Israel mengelola sebagian besar infrastruktur siber pemerintah Amerika Serikat, memicu peringatan terkait risiko besar terhadap privasi dan kedaulatan digital AS.
Laporan itu menyebut Axonius—perusahaan yang didirikan oleh mantan anggota Unit 8200 intelijen militer Israel—mengelola infrastruktur keamanan siber penting di lebih dari 70 lembaga federal AS, termasuk Departemen Pertahanan, Keamanan Dalam Negeri, Energi, Transportasi, Keuangan, Pertanian, dan Kesehatan. Platform perusahaan tersebut bekerja dengan mengumpulkan dan menyatukan data dari seluruh perangkat dan sistem TI yang digunakan lembaga-lembaga itu, sehingga memberikan “kemampuan visual dan kendali” atas seluruh jenis perangkat yang terhubung.
Laporan itu memperingatkan bahwa tingkat akses semacam ini secara teoretis memungkinkan entitas Israel melacak perangkat, login, dan pergerakan pegawai federal, bahkan menonaktifkan akun atau perangkat mereka. Meskipun Axonius mempresentasikan dirinya sebagai perangkat untuk memperkuat keamanan siber pemerintah, investigasi tersebut menegaskan bahwa latar belakang intelijen para pendirinya serta kenyataan bahwa sebagian besar operasi rekayasa perusahaan dikelola dari Tel Aviv menimbulkan kekhawatiran yang semakin besar atas keamanan nasional AS.
Laporan itu juga menekankan bahwa ini bukan pertama kalinya muncul kecurigaan terkait infiltrasi intelijen Israel dalam institusi Amerika. Dua belas tahun lalu, surat kabar Inggris The Guardian membongkar perjanjian rahasia antara Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dan unit intelijen Israel, ISNU, untuk saling berbagi data komunikasi mentah tanpa filter—langkah yang dinilai bertentangan dengan jaminan perlindungan privasi warga AS.
Investigasi tersebut turut meninjau serangkaian insiden yang menunjukkan ketidakpercayaan antara lembaga AS dan Israel, termasuk tuduhan bahwa Israel memata-matai pembicaraan pemerintahan Barack Obama mengenai kesepakatan nuklir Iran, penanaman perangkat penyadapan di dekat Gedung Putih pada 2019, serta pertemuan kontroversial antara duta besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, dan mata-mata Amerika yang bekerja untuk Israel, Jonathan Pollard, di kedutaan AS di Yerusalem.
Laporan itu menyimpulkan bahwa infiltrasi siber Israel di sistem federal AS kini lebih terbuka dan lebih dalam dibanding sebelumnya, menciptakan preseden yang mengkhawatirkan bagi masa depan keamanan digital Amerika.
Sementara itu, harian Israel Maariv melaporkan bahwa seorang serdadu bunuh diri setelah mengalami gangguan stres pascatrauma akibat keterlibatannya dalam perang terbaru di Jalur Gaza. Surat kabar itu menjelaskan bahwa sang serdadu mengalami trauma mendalam karena pengalaman dalam agresi tersebut, yang sangat mempengaruhi kondisi psikologisnya.
Insiden ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak psikologis jangka panjang yang dialami para serdadu Israel akibat perang-perang yang mereka jalani di kawasan. Pada akhir Oktober lalu, laporan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset mengungkapkan angka terbaru terkait fenomena bunuh diri di tubuh militer Israel, dengan 279 percobaan bunuh diri terdokumentasi antara Januari 2024 hingga Juli 2025. Angka itu menunjukkan bahwa untuk setiap serdadu yang bunuh diri pada periode tersebut, terdapat tujuh percobaan lainnya yang terjadi.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Roya News


