Skip to main content

Beberapa jam setelah mantan duta besar Simon Karam ditunjuk sebagai ketua delegasi Lebanon dalam Komite Mekanisme—sebuah kerangka kerja teknis yang dibentuk untuk menangani isu demarkasi perbatasan, pelanggaran garis batas, dan pertukaran tahanan melalui mediator internasional—Israel merespons dengan cepat melalui serangkaian ancaman dan serangan udara yang menargetkan sejumlah desa di Lebanon selatan. Hal ini dilaporkan koresponden Al-Alam di Beirut, Hussein Ezzeddine.

Menurut laporan tersebut, dua serangan awal terjadi di Mahrouna (Distrik Tyre) dan Jbaa (Distrik Nabatieh), sebelum muncul ancaman baru terhadap Majadel dan Barashit di Distrik Tyre dan Bint Jbeil. Ezzeddine menegaskan bahwa serangan ini merupakan pelanggaran berkelanjutan, dengan Israel mengabaikan kesepakatan apa pun untuk menahan diri. Padahal, Komite Mekanisme melalui pertemuannya kemarin diharapkan mulai mengupayakan penghentian serangan.

Situasi keamanan ini menjadi pokok pembahasan rapat kabinet di Istana Baabda, termasuk laporan ketiga Angkatan Darat Lebanon mengenai monopoli senjata di selatan Sungai Litani. Para pejabat juga menyoroti implikasi politik dari penunjukan Simon Karam sebagai ketua delegasi.

Ezzeddine menjelaskan bahwa tanggung jawab Karam tidak bersifat militer dan tidak menjadikannya negosiator langsung. Wewenangnya terbatas pada isu teknis seperti demarkasi perbatasan dan pertukaran tahanan—materi yang tidak dapat ditangani perwira militer secara resmi dalam forum ini.

Ketua Parlemen Nabih Berri menegaskan bahwa Karam bekerja dalam komite teknis, dan setiap upaya yang melampaui batas mandat tersebut akan mengakhiri perannya seketika. Perdana Menteri Nawaf Salam, dalam komentarnya kemarin, menilai bahwa Israel telah salah menafsirkan langkah Lebanon. Ia menegaskan bahwa komite ini dibentuk untuk membahas penghentian serangan, penarikan pasukan, dan pembebasan tahanan Lebanon di Israel.

Sementara itu, bahkan sebelum keputusan penunjukan Karam sepenuhnya berlaku, Israel kembali meningkatkan agresi dengan menyerang beberapa desa di Lebanon selatan menggunakan pesawat tempur, serta melanjutkan pelepasan balon dan tabung peledak di wilayah garis depan. Rapat kabinet berlangsung dalam suasana tegang, di tengah penerbangan pesawat tempur Israel yang kembali melanggar wilayah udara Lebanon.

Pengamat politik Dr. Talal Atrissi mengatakan bahwa penunjukan Karam merupakan hasil tekanan yang jelas, sejalan dengan pandangan Amerika Serikat dan Israel bahwa langkah ini dapat membuka jalan bagi dialog langsung dan normalisasi hubungan. Peneliti hubungan internasional Dr. Ali Fadlallah menilai bahwa dari perspektif Lebanon, langkah tersebut justru dapat mendorong potensi perang, sementara sebagian kecil faksi politik mungkin melihatnya sebagai peluang menuju normalisasi yang mereka sebut “perdamaian”.

Rapat kabinet yang dipimpin Presiden Michel Aoun dimulai dengan pernyataan Nabih Berri, yang kembali menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap batas teknis komite berarti akhir dari peran Karam. Perdana Menteri Nawaf Salam menambahkan bahwa langkah Lebanon bertujuan menghentikan serangan, memfasilitasi penarikan pasukan, dan membebaskan tahanan.

Di tengah semua perkembangan ini, publik Lebanon menunggu sikap Hizbullah yang akan disampaikan Sekretaris Jenderal Sheikh Naim Qassem dalam sebuah acara pada Jumat, 5 Desember 2025, pidato yang dinilai penting untuk menentukan arah politik dan keamanan negara di tengah meningkatnya tekanan militer Israel.

Penunjukan seorang sipil ke Komite Mekanisme justru memicu serangan tambahan Israel di Lebanon selatan. Sementara kabinet memuji laporan militer tentang monopoli senjata di selatan Litani, banyak pihak menilai bahwa arah perkembangan selanjutnya bergantung pada pernyataan yang akan disampaikan Sekretaris Jenderal Hizbullah dalam pidatonya tersebut.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: LBCI