Skip to main content

Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Fadavi, menegaskan bahwa keberlanjutan generasi revolusioner merupakan salah satu tujuan utama Revolusi Islam, serta bahwa pelayanan kepada rakyat di samping menghadapi musuh—khususnya Amerika Serikat—adalah kewajiban mendasar bagi Garda Revolusi. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah acara serah terima jabatan pada Rabu, 3 Desember 2025, yang menandai perpisahan dengan Brigadir Jenderal Abazar Salari dan pelantikan Kolonel Hassan Sanatkaran sebagai komandan baru IRGC Provinsi Hormozgan di Iran selatan.

Dalam sambutannya, Brigadir Jenderal Fadavi menggambarkan Hormozgan sebagai wilayah yang memiliki signifikansi strategis, sembari menekankan peran Garda Revolusi dalam menjaga keamanan serta mendukung pembangunan nasional. Ia menyebut bahwa pewarisan nilai-nilai Revolusi Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya merupakan kebutuhan mutlak.

Fadavi juga menyinggung akar historis Revolusi Islam dan menggambarkan IRGC sebagai institusi yang paling terhubung dengan rakyat. Ia menegaskan bahwa kerja tanpa henti yang dilakukan pasukan Garda dalam bidang pelayanan sosial merupakan bentuk ibadah dan kini memiliki cakupan yang semakin luas. Ia menambahkan bahwa Hormozgan adalah salah satu provinsi paling sensitif secara geografis dan memainkan peran penting dalam berbagai misi IRGC. Wilayah itu, menurutnya, telah memberikan lebih dari 1.500 syahid selama revolusi dan memegang rekor pengiriman pasukan terbanyak ke garis depan pada tiga belas hari pertama Perang Pertahanan Suci.

Wakil Panglima IRGC itu menekankan bahwa satuan Garda di Hormozgan merupakan pilar pendukung operasi laut, darat, udara, serta beragam misi strategis lainnya.

Berbicara mengenai Selat Hormuz, Fadavi menyebut jalur itu sebagai “wilayah geografis terpenting di dunia” yang dilalui lebih dari 20 juta barel minyak per hari. Ia menegaskan bahwa kebutuhan global terhadap energi dari Teluk Persia menjadikan selat tersebut sebagai urat nadi strategis yang tidak dapat diremehkan oleh negara mana pun. Fadavi menambahkan bahwa IRGC menjaga kawasan ini dengan kekuatan penuh di darat, laut, dan udara.

Ia juga menyoroti pentingnya peran IRGC dalam proyek-proyek pembangunan, mulai dari penyediaan air, proyek konstruksi, pertanian, hingga pengelolaan DAS. Menurutnya, seluruh program ini dijalankan secara intensif dan cepat sebagai bagian dari layanan Garda kepada masyarakat.

Dalam bagian lain pidatonya, Fadavi menyampaikan peringatan keras terhadap pihak luar yang mengancam keamanan regional. Ia menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai sumber utama ketidakstabilan dunia, dengan mengatakan: “Jika Amerika berniat mengancam keamanan kami, kami akan menghadapinya dengan seluruh kekuatan kami.” Ia menambahkan bahwa situasi di Teluk Persia dan berbagai kawasan konflik dunia merupakan produk dari kebijakan destruktif kedua pihak tersebut yang, menurutnya, gagal meraih kemenangan berarti selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Komandan Angkatan Laut IRGC, Laksamana Ali Reza Tangsiri, mengumumkan bahwa manuver militer bersandi “Power” akan dimulai pada Kamis besok. Latihan yang digelar di Teluk Persia, Selat Hormuz, serta Laut Oman itu akan mencakup uji coba sistem rudal dan drone dalam kondisi perang elektronik penuh. Departemen Hubungan Masyarakat Angkatan Laut IRGC menyebut bahwa latihan tersebut akan digelar atas nama syahid Komandan Mohammad Nazeri dan berlangsung selama dua hari, meliputi area Teluk Persia, pulau-pulau Nazhat, Selat Hormuz, hingga Laut Oman.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: IRNA