Dalam rangka merespons agresi Israel dan membela Lebanon serta rakyatnya, Perlawanan Islam melaksanakan 25 operasi militer pada Kamis, 31 Oktober 2024. Operasi-operasi ini menargetkan permukiman, posisi, barak, dan konsentrasi pasukan Israel di perbatasan Lebanon–Palestina, menggunakan drone, rudal, dan tembakan artileri.
Di sektor darat, para mujahid Perlawanan Islam terus melawan secara heroik upaya pasukan Israel untuk maju menuju kota Khiam. Setelah pemantauan akurat terhadap konsentrasi musuh di pinggiran kota tersebut, para mujahid menargetkan mereka dengan tembakan roket dan artileri, menghasilkan hantaman yang terkonfirmasi.
Unit roket Perlawanan membombardir konsentrasi pasukan Israel di wilayah Al-Kuakh di utara permukiman Ramot Naftali dengan rudal presisi. Serangan besar juga dilancarkan ke kawasan “Kriot” di utara Haifa, gudang-gudang di wilayah “Yarka” di timur Acre, serta permukiman “Karmiel”.
Unit pertahanan udara Perlawanan mencegat sebuah pesawat pengintai Israel di sektor barat dan memaksanya keluar dari wilayah udara Lebanon.
Dalam sebuah pernyataan, Ruang Operasi Perlawanan Islam menegaskan bahwa meskipun berada di bawah pengawasan intensif musuh, Perlawanan tetap meluncurkan ratusan rentetan roket setiap hari ke posisi-posisi Israel, bahkan hingga jauh ke dalam wilayah pendudukan.
Sementara itu, media Israel melaporkan bahwa sejumlah perwira dan tentara tewas atau terluka di permukiman “Metula” akibat serangan roket Hizbullah. Sumber-sumber Israel menyebutkan delapan orang tewas dan beberapa lainnya terluka akibat serangan tersebut. Militer Israel mengumumkan bahwa 11 tentaranya terluka dalam 24 jam terakhir akibat bentrokan dengan Hizbullah.
Pada hari itu, sirene peringatan berbunyi sebanyak 18 kali di berbagai wilayah Palestina yang diduduki, terutama di permukiman Galilee Panhandle, Galilee Hulu, serta sepanjang pesisir dari Rosh Hanikra hingga Haifa.
Sumber berita: Al-Manar
Sumber gambar: The Defense Post



