Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tetap memegang teguh jalur diplomasi dan negosiasi yang adil dengan prinsip saling menguntungkan. Dalam pidatonya pada peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran telah mengambil langkah nyata untuk memastikan kesuksesan dialog dengan Amerika Serikat. Namun, ia memberikan peringatan keras agar pihak lawan menghentikan retorika yang berlebihan jika ingin perundingan ini membuahkan hasil. Pezeshkian menekankan bahwa kerja sama dan negosiasi adalah satu-satunya solusi untuk keluar dari berbagai krisis yang melanda kawasan, dan Iran maju ke meja perundingan dari posisi yang kuat, bukan karena lemah.
Sejalan dengan visi presiden, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menjelaskan bahwa Iran hanya tertarik pada negosiasi yang jujur dan berorientasi pada hasil nyata. Araqchi tidak menutupi fakta bahwa masih ada “tembok ketidakpercayaan” yang sangat tebal terhadap Amerika Serikat akibat tindakan-tindakan Washington di masa lalu. Ia menegaskan karakter diplomasi Iran dengan prinsip yang sangat sederhana namun tegas: rakyat Iran akan berdiri teguh dan melawan jika dihadapi dengan bahasa kekuatan, tetapi mereka akan merespons dengan cara yang sama baiknya jika diajak bicara dengan bahasa rasa hormat.
Araqchi menyampaikan pesan ini di hadapan para duta besar negara sahabat, menegaskan bahwa kemauan Iran untuk berdialog sangat bergantung pada keseriusan pihak lain dalam mencapai kesepakatan berbasis hasil. Ia menekankan bahwa kebijakan luar negeri Teheran saat ini sangat memprioritaskan kerja sama erat dengan negara-negara tetangga demi menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Iran berupaya mencegah terjadinya eskalasi atau konfrontasi lebih lanjut, sembari tetap memastikan bahwa kedaulatan dan hak-hak rakyatnya diakui sepenuhnya dalam setiap kesepakatan internasional yang akan datang.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: IRNA


