Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pada Rabu, 26 November 2025, mengumumkan di akhir kunjungan dua harinya ke Pakistan bahwa ia mencapai kesepakatan konstruktif dengan para pejabat Pakistan untuk menindaklanjuti isu-isu kawasan, terutama memperkuat posisi Palestina dan melindungi hak-hak rakyat Palestina.
Ia menjelaskan bahwa pembicaraan kedua pihak mencakup konsultasi regional mengenai isu Palestina dan situasi di Gaza, yang ia sebut sangat penting pada tahap ini. Iran dan Pakistan membahas cara bekerja sama untuk meningkatkan perlindungan atas hak-hak rakyat Palestina.
Larijani menambahkan bahwa Pakistan menunjukkan minat untuk memainkan peran dalam penyelesaian isu-isu internasional, dan Iran menyambut kontribusi tersebut—termasuk soal isu nuklir—selama masih berada dalam kerangka yang sesuai dengan kepentingan Iran. Ia juga menyebut bahwa pembicaraan menyinggung sejumlah perselisihan Pakistan dengan negara lain di kawasan, dan Iran menyatakan kesiapannya membantu jika Pakistan menilai bahwa Teheran dapat berperan dalam penyelesaian persoalan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pakistan perlu menentukan bentuk dan pendekatan peran yang mereka inginkan, dan Iran siap menyampaikan pandangan mereka kepada pihak terkait lainnya.
Selama kunjungannya ke Islamabad sejak Selasa, Larijani mengadakan pertemuan terpisah dengan Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri, Ketua Majelis Nasional, Perdana Menteri, Presiden, dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan. Ia juga berdiskusi dengan para cendekiawan, pimpinan lembaga pemikir, menghadiri konferensi pers, serta menghadiri pertemuan dengan akademisi Pakistan.
Di waktu yang sama, musim dingin ketiga sejak perang kembali memicu banjir di kawasan pengungsian Gaza. Jalan-jalan, tenda-tenda lusuh, dan tempat tinggal pengungsi terendam air, memperparah kesulitan hidup yang sudah mereka hadapi.
Seorang pengungsi berkata:
“Setiap kali hujan, kami kebanjiran. Air mengepung kami. Saya punya anak kecil dan istri. Saya berusaha melindungi mereka, tapi apa yang bisa saya lakukan? Ke mana kami harus pergi saat hujan turun? Tenda selalu terendam dan air merembes masuk.”
Seorang perempuan bernama Umm al-Abd menggambarkan penderitaan serupa:
“Air masuk ke tenda. Semua barang dan kasur kami basah. Kamar mandi juga tergenang. Tidak ada yang melindungi kami. Pemerintah daerah tidak bisa membantu karena tidak memiliki kemampuan. Tidak ada yang membantu siapa pun; seluruh Gaza terendam.”
Tim kota di Jalur Gaza kekurangan peralatan dasar untuk menanggapi banjir atau memperbaiki infrastruktur yang hancur akibat serangan Israel. Saeb Laqan, Deputi Media Kotamadya Khan Younis, mengatakan bahwa sebagian besar kendaraan dan fasilitas layanan telah hancur, begitu pula jaringan jalan, air, dan saluran pembuangan. Ia menuturkan bahwa dengan datangnya badai, mereka menghadapi kesulitan besar melindungi warga dan para pengungsi—terutama yang tinggal di tenda.
Penderitaan rakyat Gaza tidak berakhir meski perang telah berhenti. Penutupan wilayah dan pengepungan yang diberlakukan militer Israel membuat kondisi mereka semakin memburuk. Tim kotamadya dan pertahanan sipil terus berusaha memperbaiki infrastruktur yang hancur akibat serangan, tetapi Israel melarang masuknya pasokan penting yang diperlukan untuk membantu para pengungsi yang hidup di tenda-tenda sobek, yang kini kembali terendam akibat badai musim dingin.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Minute Mirror



