Skip to main content

Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, mengatakan bahwa pasukan Basij adalah pohon kebaikan yang ditanam oleh Imam Khomeini, lahir dari madrasah Asyura, dan kini menjadi duri bagi Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Barat yang mendukung mereka. Ia menyampaikan hal tersebut ketika bertemu anggota Basij di Pusat Perlawanan Imam Khomeini di Teheran.

Shekarchi menggambarkan Basij sebagai bagian penting dari kekuatan sosial dan psikologis Revolusi Islam—sebuah gerakan rakyat yang menurutnya telah menjadi sumber energi bangsa selama empat dekade. Ia menyebut bahwa Republik Islam Iran memiliki tiga fondasi kekuatan utama.

  • Fondasi pertama adalah hubungan spiritual masyarakat Iran dengan Ahlul Bait, termasuk penghormatan terhadap panji Imam Ali bin Abu Thalib dan keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi.
  • Fondasi kedua adalah kepemimpinan Revolusi Islam yang kini berada di tangan Sayyid Ali Khamenei, yang ia anggap sebagai poros penyatuan dan arah strategis negara.
  • Fondasi ketiga adalah Basij itu sendiri—sebuah jaringan mobilisasi rakyat yang menurutnya tidak memiliki padanan di negara lain.

Menurut Shekarchi, kekuatan Iran tidak hanya diukur dari kelengkapan militernya, tetapi juga dari fondasi ideologis, sosial, dan identitas yang mengakar kuat di masyarakat. Ia mengatakan bahwa ketabahan dan pengorbanan anggota Basij mengingatkannya pada masa perang Iran–Irak, dan bahwa nilai-nilai tersebut tetap menjadi penopang kekuatan nasional.

Pada Rabu malam, 26 November 2025, juru bicara Garda Revolusi, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, turut menegaskan peran Basij dalam operasi-operasi strategis Iran. Ia mengatakan bahwa selama perang dua belas hari, Iran menyerang sejumlah fasilitas penting Israel, termasuk pusat penelitian, pusat intelijen, dan satu-satunya kilang yang masih beroperasi.

Dalam penjelasannya, Naeini menyebut Basij sebagai gagasan strategis Imam Khomeini yang didesain untuk menyatukan kelompok masyarakat yang berkomitmen pada kepentingan nasional dan visi peradaban Revolusi Islam. Ia menilai kemampuan sejati Iran terlihat setelah pelaksanaan Operasi Janji Setia, mulai dari Janji Setia 1 dan Janji Setia 2 hingga tahap berikutnya yang mereka siapkan. Operasi-operasi itu, katanya, mengubah peta kekuatan di kawasan.

Naeini mengatakan bahwa Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Barat salah membaca situasi sejak pecahnya Badai Al-Aqsa, karena mengira Iran melemah oleh persoalan internal dan tidak mampu bereaksi jauh di luar perbatasannya. Ia menambahkan bahwa rencana pihak lawan—yang mencakup serangan udara cepat, operasi siber, operasi elektronik, serta upaya mendorong kekacauan internal—gagal karena mereka tidak memahami struktur pertahanan Iran yang tidak bergantung pada individu tertentu.

Ia menjelaskan bahwa Operasi Janji Setia 3, yang terdiri atas 22 gelombang dengan taktik berbeda, menunjukkan bahwa kemampuan rudal Iran tidak terikat batas geografis dan sangat bergantung pada ilmuwan muda di bidang antariksa, misil, dan drone. Menurut Naeini, perang dua belas hari itu menjadi titik balik keamanan kawasan pada abad ke-21 karena hampir seluruh fasilitas militer Amerika Serikat dan NATO di wilayah tersebut dikerahkan untuk membantu Israel. Ia menyebut bahwa pengalaman itu kini dipelajari di berbagai akademi militer dunia.

Naeini menambahkan bahwa pesan Sayyid Ali Khamenei pada hari pertama perang—yang menyatakan bahwa Israel telah melakukan kesalahan besar—langsung mengubah keterkejutan masyarakat menjadi kepercayaan diri nasional. Ia mengatakan bahwa serangan pihak lawan justru memperkuat penyatuan identitas nasional dan keagamaan di Iran, sesuatu yang bahkan diakui oleh para pemimpin Israel.
Ia menutup dengan menyebut bahwa survei menunjukkan mayoritas rakyat Iran menilai kemampuan pertahanan negara kuat, dan bahwa meningkatnya kepercayaan publik menunjukkan kegagalan perang opini yang diarahkan kepada masyarakat Iran.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Tehran Times