Skip to main content

Setiap kali rakyat Palestina terusir, mereka kembali hanya untuk mendapati tanah kelahirannya sudah berubah jadi padang puing. Setiap pulang, kehancurannya selalu lebih parah, lebih brutal, dan lebih tak masuk akal. Dalam gelombang terakhir pengusiran setelah operasi “Kafilah Gideon 2”, ketika pasukan Israel menyerbu Kota Gaza, buldoser raksasa D9 menggusur bangunan demi bangunan seolah berpacu dengan waktu. Saat semuanya rata, mereka menurunkan robot peledak untuk menghancurkan sisa-sisa kota, menjadikannya reruntuhan tanpa tanda kehidupan.

Kebrutalan ini bukan sekadar tindakan militer, tapi cerminan kebencian ideologis dan religius yang mengakar dalam struktur Zionisme — kebencian yang bersumber dari tafsir ekstrem terhadap Taurat dan Talmud, lalu diperkuat oleh ambisi politik, militer, dan psikologis.
Kelompok Zionis religius garis keras kerap menghidupkan kembali narasi bangsa Amalek untuk membenarkan kekerasan dan penaklukan total. Dalam tafsir itu, orang Arab dianggap keturunan Amalek — kaum yang menurut perintah Tuhan harus dimusnahkan seluruhnya, termasuk anak-anak dan hewan mereka.
Dalam Ulangan 17:19–25 dan 1 Samuel 15, Tuhan memerintahkan pemusnahan bangsa Amalek sampai ke ternaknya. Dunia menyaksikan bagaimana tafsir itu hidup kembali ketika tentara Israel menembaki hewan liar dan burung, seolah memusnahkan kehidupan sekecil apa pun yang bergerak di Gaza. Narasi ini bahkan sempat disinggung oleh Benjamin Netanyahu dalam pidato-pidatonya.

Proyek penjajahan ini, yang disokong oleh kekuatan besar di Barat dan sebagian rezim Arab, tidak sekadar menghancurkan rumah sebagai hukuman politik atas dukungan rakyat terhadap Hamas. Tujuan sejatinya jauh lebih gelap: mematahkan semangat hidup dan memusnahkan kehendak untuk melawan, agar tak lahir generasi baru yang berani meneruskan jalan pembebasan.

Bagi orang Palestina, rumah bukan hanya dinding dan atap — tapi ruang kenangan, mimpi, dan identitas. Menghancurkan rumah berarti berusaha menghapus memori kolektif yang mengikat manusia pada tanahnya sendiri, membuat mereka tercerabut dan kehilangan arah.

Lebih dari sekadar perusakan fisik, ini adalah upaya untuk mengubah geografi dan demografi Gaza. Dengan meratakan kamp pengungsi dan permukiman, Israel mencoba menggambar ulang peta wilayah, menciptakan zona kosong dan wilayah penyangga yang mudah dikontrol. Semua dilakukan di tengah kebijakan bumi hangus yang telah menewaskan lebih dari seratus ribu syahid dan memaksa ribuan keluarga berpindah ke tanah asing.

Dalih yang sering diulang — tentang “target militer” seperti terowongan dan infrastruktur perlawanan — hanyalah alasan palsu untuk membenarkan penghancuran rumah-rumah sipil, tempat anak-anak bermain di kamar penuh warna dan boneka. Tujuannya jelas: mengembalikan rakyat Palestina ke Nakba pertama, hidup di tenda-tenda dingin di bawah langit yang penuh ketakutan, di mana kemanusiaan, kasih sayang, dan kehangatan keluarga dihancurkan bersama reruntuhan.

Kebohongan serupa juga digunakan saat Rumah Sakit Al-Shifa dihancurkan dan diserbu dengan dalih adanya terowongan dan markas perlawanan di bawahnya. Meski tuduhan itu terbukti palsu, Israel tetap menjadikannya pembenaran untuk menghancurkan rumah sakit terbesar di Gaza, memaksa pasien dan puluhan ribu warga yang berlindung di halamannya mengungsi lagi. Semua ini bagian dari strategi menghancurkan kesadaran kolektif Palestina, agar rakyat hanya berpikir tentang cara bertahan hidup — bukan tentang kebebasan atau martabat.

Bagi manusia, rumah adalah benteng terakhir. Ketika benteng itu runtuh, musuh mengira kemenangan sudah di tangan. Tapi justru dari reruntuhan itu, kesadaran baru lahir — kesadaran bahwa memori tak bisa dihancurkan. Di bawah puing-puing, rakyat Palestina menyimpan kunci rumah, foto keluarga, nama para syuhada, dan kenangan tentang jalan-jalan yang pernah mereka lalui. Semua itu akan hidup lagi dalam ingatan anak-anak mereka.

Setiap tenda yang berdiri di tanah Gaza adalah bentuk perlawanan — simbol kehidupan baru di tengah kematian. Karena itu, para pemimpin Palestina, para cendekiawan, dan manusia merdeka di seluruh dunia harus memperkuat narasi Palestina, mendokumentasikan kejahatan yang terjadi, dan menjaga kesadaran rakyat agar tak punah. Ini bentuk perlawanan yang tak kalah penting dari perang bersenjata.

Membangun solidaritas kemanusiaan global akan mengubah tragedi Palestina menjadi pesan universal tentang keadilan — tentang bagaimana penjajahan atas nama “keamanan” adalah kejahatan yang tak bisa lagi disembunyikan.

Israel mungkin menghancurkan rumah untuk membunuh ingatan. Tapi mereka lupa: rakyat Palestina akan selalu bangkit seperti burung phoenix, membangun kisah baru dari abu, menulis kembali sejarah tentang tanah, rumah, dan hak yang tak akan pernah padam.

Sumber opini: Al Mayadeen

Sumber gambar: Euronews