Skip to main content

Pada hari ke-29 perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, pesawat-pesawat tempur Israel kembali melancarkan serangan udara di wilayah timur Khan Yunis, disertai tembakan dari kendaraan lapis baja Zionis. Sementara itu, pasukan pendudukan terus meratakan bangunan-bangunan pemukiman di Rafah, bagian selatan Jalur Gaza.

Di bidang kemanusiaan, pemerintah Gaza menyatakan bahwa Israel masih menerapkan kebijakan pengepungan yang mencekik sektor tersebut. Hingga kini, jumlah bantuan yang masuk sejak dimulainya gencatan senjata hanya mencapai 4.453 truk dari total 15.600 truk yang seharusnya diizinkan masuk.

The Washington Post pada Jumat, 7 November 2025, melaporkan bahwa apa yang disebut Pusat Koordinasi Sipil-Militer kini mengambil alih dari Israel peran pengawasan terhadap distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza. Langkah ini dilakukan di tengah penantian pemungutan suara Dewan Keamanan PBB mengenai pembentukan pasukan internasional untuk sektor tersebut.

Dalam konteks ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembentukan pasukan itu “akan segera diumumkan,” tanpa menyebutkan tanggal pasti. Trump kembali menegaskan klaimnya bahwa perjanjian gencatan senjata di Gaza “kokoh,” meskipun banyak pihak menggambarkannya sebagai “rapuh,” mengingat pelanggaran harian yang masih dilakukan pasukan pendudukan dan telah menewaskan puluhan warga Palestina.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa saat ini tengah disiapkan rancangan resolusi internasional yang akan membuka jalan bagi negara-negara sukarelawan untuk bergabung dalam apa yang disebut “pasukan penstabil internasional” di Gaza, setelah memperoleh mandat resmi dari PBB.

Tahap berikut dari rencana Presiden Trump, setelah gencatan senjata dan pertukaran tawanan, adalah pembentukan apa yang ia sebut “dewan perdamaian” dan “pasukan penstabil internasional.”

Di Tepi Barat yang diduduki, pasukan Israel melancarkan serangkaian penggerebekan dan penangkapan di berbagai wilayah, bertepatan dengan serangan baru oleh pemukim yang membakar sebuah rumah di Ramallah. Di kota Kobar, utara Ramallah, pasukan Israel menggeledah beberapa rumah dan menangkap seorang pria Palestina bersama putranya.

Di Ya’bad, barat daya Jenin, pasukan pendudukan menggerebek sejumlah rumah, mengosongkan bangunan, dan menjadikannya markas militer sementara. Di Dura, selatan Hebron, mereka menyerbu rumah warga, memukuli pemiliknya dengan brutal, dan merusak isinya sebelum mundur.

Sementara itu, di Khirbet Abu Falah, timur laut Ramallah, para pemukim membakar rumah milik warga Palestina hingga menimbulkan kerusakan sebelum berhasil dipadamkan oleh tim pertahanan sipil. Para pemukim juga menyerang jurnalis Palestina yang sedang meliput di kota Beita, selatan Nablus.

Palang Merah Palestina melaporkan bahwa lima orang, termasuk empat aktivis solidaritas asing, terluka akibat serangan pemukim terhadap para petani di Burin, selatan Nablus.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan adanya peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam serangan pemukim terhadap warga Palestina. Lembaga tersebut mencatat bahwa pada Oktober lalu saja terjadi 264 serangan — angka bulanan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2006.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut bahwa serangan-serangan itu menimbulkan korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan properti yang signifikan, dengan rata-rata delapan serangan per hari. OCHA juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun ini telah terjadi sekitar 1.500 serangan pemukim di seluruh Tepi Barat. Selain itu, 42 anak Palestina telah tewas akibat tembakan pasukan Israel sejak awal tahun, yang berarti satu dari lima warga Palestina yang terbunuh di Tepi Barat adalah anak-anak.

Sumber berita: Al-Manar

Sumber gambar: Al Jazeera