Skip to main content

Pemimpin gerakan Ansar Allah di Yaman Abdul Malik al-Houthi menegaskan bahwa pernyataan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee merupakan cerminan nyata dari kebijakan resmi pemerintahannya yang mendukung ambisi Israel untuk menguasai kawasan secara luas. Dalam pidatonya pada Minggu, 22 Februari 2026, Abdul Malik al-Houthi menyoroti klaim sepihak Mike Huckabee yang menyebut bahwa Israel memiliki hak berdasarkan teks keagamaan untuk mengendalikan wilayah yang membentang dari Sungai Efrat di Irak hingga Sungai Nil di Mesir. Menurut Abdul Malik al-Houthi, pernyataan tersebut membuktikan bahwa Amerika Serikat secara terang-terangan menjadi mitra dalam agenda penjajahan Israel yang bertujuan menguasai rakyat, sumber daya alam, dan kedaulatan negara-negara di Timur Tengah melalui klaim wilayah yang melampaui batas negara saat ini.

Dalam pidato yang disampaikan pada Minggu, 22 Februari 2026 tersebut, Abdul Malik al-Houthi menyatakan bahwa Amerika Serikat terlibat penuh dalam setiap kejahatan agresi dan konspirasi yang dilakukan oleh Israel di wilayah pendudukan. Ia menilai bahwa upaya diplomasi yang dilakukan pihak musuh melalui mekanisme seperti Dewan Trump hanyalah sebuah bentuk penipuan politik untuk menutupi aksi kekerasan harian yang terus terjadi terhadap rakyat Palestina. Abdul Malik al-Houthi menekankan bahwa ambisi ekspansi wilayah ini bukan sekadar retorika, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas seluruh negara Arab karena didukung oleh kekuatan militer dan diplomatik penuh dari Washington.

Selain ancaman perluasan wilayah, Abdul Malik al-Houthi juga menyuarakan peringatan keras mengenai kondisi Masjid Al-Aqsa yang semakin terancam oleh kebijakan otoritas Israel. Ia menjelaskan bahwa saat ini Israel semakin gencar membatasi akses ibadah bagi umat Muslim dengan menetapkan ambang batas maksimal jumlah jemaah yang diperbolehkan masuk ke area masjid. Langkah ini disebutnya sebagai tindakan permusuhan yang sangat berbahaya dan sistematis untuk mengurangi kehadiran umat Islam di situs suci tersebut. Abdul Malik al-Houthi menuduh bahwa tujuan akhir dari pembatasan ini adalah untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa secara total demi mendirikan bangunan kuil yang mereka klaim di atas reruntuhannya.

Situasi keamanan di kawasan juga dipaparkan secara mendalam oleh Abdul Malik al-Houthi, di mana ia mencatat bahwa aksi pembunuhan massal di Jalur Gaza serta pelanggaran hukum di Tepi Barat tetap berlangsung tanpa henti. Di saat yang sama, serangan militer Israel terhadap Lebanon juga masih terus terjadi sebagai bagian dari upaya menciptakan kondisi apatis di tengah masyarakat dunia agar agenda berbahaya Israel dapat berjalan tanpa perlawanan. Abdul Malik al-Houthi mendesak seluruh elemen umat untuk tetap waspada dan tidak terpedaya oleh narasi perdamaian semu yang disebarkan melalui media internasional, sementara realitas di lapangan menunjukkan eskalasi kekerasan yang bertujuan untuk memaksakan dominasi Israel di seluruh kawasan dari Sungai Efrat hingga Sungai Nil.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Saba