Skip to main content

Sebuah lembaga riset yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kelompok lobi keamanan paling berpengaruh bagi entitas Zionis di Washington—dan yang laporannya kerap memengaruhi kebijakan Pentagon serta Gedung Putih—telah menerbitkan laporan setebal 30 halaman yang menganalisis kinerja pertahanan Amerika Serikat dan entitas pendudukan selama perang 12 hari melawan Iran.

Laporan ini, ditulis oleh Ari Securel, wakil direktur kebijakan luar negeri di Jewish Institute for National Security of America (JINSA), disusun berdasarkan wawancara rahasia dengan para pemimpin senior militer Israel, Komando Pusat AS (CENTCOM), Pentagon, serta analisis mendalam atas data operasional perang tersebut.

Biasanya bersifat pro-Israel dan pro-Amerika, laporan JINSA kali ini tanpa sengaja mengungkap fakta mencolok: perang 12 hari yang dimulai dengan serangan agresif Israel terhadap Iran ternyata merupakan perang antara Iran dan Amerika Serikat, bukan antara Iran dan Israel. Dengan kata lain, Israel hanyalah “front tempur” tempat Amerika berperang, sementara beban manusia, logistik, dan finansial konflik sepenuhnya ditanggung Washington.

Laporan itu menyebutkan bahwa lebih dari 70 persen tugas pencegahan terhadap serangan Iran dijalankan oleh sistem pertahanan udara Amerika Serikat. Artinya, kurang dari 30 persen intersepsi dilakukan oleh sistem pertahanan Israel—termasuk Arrow 2 dan 3 serta Iron Dome—dan sebagian besar hanya efektif terhadap drone, bukan rudal balistik.

Akibatnya, sistem anti-rudal Amerika, khususnya THAAD, menanggung beban utama dalam melindungi posisi Israel di wilayah pendudukan. Namun, bahkan menurut pengakuan JINSA sendiri, tingkat keberhasilan THAAD dalam mengintersepsi juga rendah. Kinerja yang buruk ini memaksa AS menembakkan lebih banyak rudal pencegat, yang dengan cepat menguras persediaan dan menimbulkan biaya besar.

Menurut laporan tersebut, Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 150 rudal THAAD—setara dengan 25 persen dari seluruh stok globalnya—hanya dalam waktu 12 hari. Produksi tahunan THAAD yang hanya sekitar 12 unit membuat waktu pengisian kembali stok itu bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan dengan kapasitas penuh Lockheed Martin.

Selain itu, kapal perusak AS meluncurkan sekitar 80 rudal SM-3, masing-masing berharga antara 8 hingga 25 juta dolar AS, sehingga total biaya langsung untuk menghadapi rudal dan drone Iran mencapai sedikitnya 2,1 miliar dolar AS. Angka ini belum termasuk biaya pengerahan dua kapal induk, jet tempur F-22 dan F-35, pesawat pengisian bahan bakar, unit perang elektronik, serta operasi siber—semuanya menambah ratusan juta dolar beban keuangan AS dalam mendukung Israel.

Secara keseluruhan, dalam 12 hari perang, AS menghabiskan produksi rudal pencegat untuk beberapa tahun ke depan, sementara Iran hanya menggunakan sebagian kecil dari persediaan misilnya. Tekanan finansial dan logistik inilah, menurut laporan JINSA, yang menjadi faktor utama yang memaksa Washington menghentikan perang.

JINSA menulis bahwa “pengurasan amunisi yang berkelanjutan dan gempuran rudal Iran tanpa henti” memaksa entitas Zionis meminta gencatan senjata.

Bertolak belakang dengan klaim kemenangan yang dilontarkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, laporan JINSA justru mengungkap bahwa keputusan Washington dan Tel Aviv untuk mengakhiri perang dilandasi ketakutan akan runtuhnya sistem pertahanan udara secara total. Jika perang berlanjut satu minggu lagi, stok rudal THAAD AS akan habis, kapal perusak—yang tidak dapat diisi ulang di laut—terpaksa kembali ke pelabuhan, dan Israel akan benar-benar tidak memiliki pertahanan.

Sementara itu, Iran dengan strategi serangan kecil, tersebar, dan terarah justru mampu menghantam kota-kota besar Israel. Berdasarkan evaluasi ini, gencatan senjata mendadak yang diumumkan Trump pada hari terakhir perang bukanlah tanda kemenangan, melainkan bentuk penyerahan terhadap tekanan strategis Iran.

Dalam minggu-minggu setelah perang, berbagai media dan lembaga think tank Barat—termasuk INSS, Pusat Begin–Sadat, Wall Street Journal, Fox News, dan Washington Post—secara seragam mengklaim bahwa stok rudal balistik Iran telah menipis dan bahwa Teheran tidak akan mampu melakukan serangan balasan besar dalam perang berikutnya. Namun, laporan JINSA—yang justru menjadi sumber utama narasi mereka—menunjukkan hal sebaliknya.

Laporan itu menegaskan bahwa sistem pertahanan udara Israel tidak efektif melawan rudal Iran, dan yang lebih penting, rudal pencegat Amerika juga mengalami penurunan efektivitas dan jumlah yang signifikan. Artinya, AS dan Israel akan menghadapi krisis stok rudal dan kemampuan intersepsi serius dalam perang mendatang.

Karena itu, JINSA secara eksplisit merekomendasikan agar Amerika mempercepat pembentukan Jaringan Pertahanan Udara Antar-Negara (IAMD) bersama negara-negara Arab. Jaringan ini mencakup berbagi data radar secara waktu nyata, penempatan bersama sistem THAAD dan Patriot, hingga pengisian ulang rudal pencegat di pelabuhan Arab.

JINSA memperingatkan bahwa tanpa aliansi semacam itu, Amerika Serikat “tidak akan mampu menanggung biaya untuk mempertahankan Israel sendirian.”

Sementara itu, industri rudal Iran sepenuhnya domestik dan tidak bergantung pada sumber luar, memungkinkan Teheran dengan cepat mengisi kembali persediaannya tanpa terpengaruh sanksi. Selama perang 12 hari, Iran menguji taktik baru dengan serangan kecil dan tersebar, sekaligus mempertahankan sebagian besar kapasitas misilnya.

Kini, saat Iran memperbaiki beberapa lokasi peluncuran yang rusak, Israel dan Amerika justru menghadapi krisis persenjataan yang semakin parah. Dengan stok rudal yang menipis, waktu penggantian lama, dan ketergantungan pada aliansi rapuh di kawasan Arab, mereka memasuki posisi strategis yang jauh lebih lemah—sementara Iran, dengan industri domestik dan pengalaman taktis barunya, siap untuk bertahan dalam perang jangka panjang bila diperlukan.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Anadolu Agency