Skip to main content

Seorang sumber keamanan dari Ansar Allah mengatakan kepada AFP pada Minggu, 26 Oktober 2025, bahwa kelompok tersebut telah menangkap tiga staf lokal PBB karena diduga melakukan kegiatan mata-mata untuk Israel.

Sumber dari Ansar Allah itu menyebutkan bahwa “dua perempuan yang bekerja untuk World Food Programme (WFP) ditangkap dari rumah mereka pada Sabtu di ibu kota Yaman, Sanaa,” dan menambahkan bahwa seorang laki-laki asal Yaman yang juga bekerja untuk WFP ditangkap pada malam harinya.

Sumber tersebut menambahkan bahwa “aparat keamanan dan intelijen di Sanaa masih memiliki daftar orang yang dicari karena berkolaborasi dengan musuh Israel dan Amerika Serikat.” Penangkapan ini merupakan bagian dari gelombang operasi yang menargetkan staf PBB dan lembaga swadaya masyarakat lainnya atas tuduhan serupa, setelah sebelumnya tujuh staf lokal PBB juga ditangkap pada awal pekan ini dengan tuduhan bekerja sama dengan Israel.

Dalam pidatonya pada 16 Oktober 2025, Pemimpin Ansar Allah, Sayyid Abdulmalik al-Houthi, mengungkapkan bahwa sejumlah individu yang terafiliasi dengan organisasi kemanusiaan dan telah ditangkap merupakan bagian dari jaringan kriminal mata-mata. Pemimpin Yaman itu menyebut bahwa sel-sel mata-mata musuh yang menargetkan Yaman telah menjalani pelatihan intensif dan dibekali dengan teknologi canggih serta berbahaya.

Sayyid Abdulmalik al-Houthi menegaskan bahwa di antara sel yang paling berbahaya adalah individu-individu yang terafiliasi dengan organisasi kemanusiaan, terutama World Food Programme (WFP) dan UNICEF.

Menurut Sayyid Abdulmalik al-Houthi, sel-sel tersebut berperan penting dalam membantu penargetan terhadap pertemuan pemerintah Yaman dengan memantau dan melaporkan informasi kepada Israel, sehingga memfasilitasi terjadinya kejahatan tersebut.

Ia menambahkan bahwa sebuah sel yang secara khusus berafiliasi dengan World Food Programme, yang dipimpin oleh kepala keamanan dan keselamatan program itu di Yaman, turut berperan dalam penyerangan terhadap pertemuan pemerintah.

Lebih lanjut, Sayyid Abdulmalik al-Houthi menegaskan bahwa “Amerika Serikat dan Israel telah menggunakan organisasi kemanusiaan sebagai kedok untuk melindungi sel-sel ini dari penangkapan serta mempermudah pergerakan mereka dengan memanfaatkan sumber daya dan peralatan yang disediakan.”

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Euronews