Skip to main content

Penasihat kantor politik Hamas Taher Al-Nunu mengonfirmasi bahwa delegasi Hamas telah tiba di Kairo untuk melanjutkan negosiasi mengenai implementasi rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Gaza, di mana diskusi tersebut akan difokuskan pada upaya mengakhiri eskalasi regional serta memastikan komitmen Israel untuk mengizinkan masuknya barang-barang kemanusiaan dan bahan rekonstruksi ke dalam Jalur Gaza. Taher Al-Nunu menjelaskan bahwa delegasi Hamas yang dipimpin oleh Zaher Jabarin, seorang anggota biro politik gerakan tersebut di Tepi Barat, tiba pada Rabu pagi, 1 Juli 2026 di ibu kota Mesir, Kairo, untuk melakukan serangkaian pertemuan dengan para pejabat Mesir serta pihak mediator. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk memperkuat kesepakatan gencatan senjata dan melangkah menuju fase kedua dari perjanjian tersebut.

Menurut keterangan Taher Al-Nunu, delegasi tersebut akan membahas penghentian eskalasi regional beserta kepatuhan Israel terhadap komitmen masuknya semua barang kebutuhan pokok, termasuk material untuk pemulihan rumah sakit, toko roti, dan fasilitas infrastruktur ke Gaza. Kedua belah pihak juga akan membahas peta jalan yang mengatur transisi ke tahap kedua dari rencana Donald Trump untuk Gaza, yang mencakup pembentukan administrasi internasional, penempatan pasukan stabilisasi internasional, serta penarikan penuh pasukan militer Israel dari Gaza. Fase kedua dari rencana ini sempat menjadi poin perdebatan, di mana Hamas bersikeras menuntut penarikan penuh pasukan Israel sebelum langkah lebih lanjut diambil, di samping tuntutan agar Israel mencabut blokade di Gaza serta mengizinkan pergerakan bebas bagi warga maupun barang-barang logistik.

Pembicaraan di Kairo ini berlangsung di tengah berjalannya implementasi perjanjian gencatan senjata yang dicapai awal tahun ini, yang sebagian besar tetap bertahan meskipun terjadi pelanggaran terus-menerus oleh pihak Israel. Fase pertama dari kesepakatan tersebut meliputi pertukaran tahanan, penghentian operasi tempur, serta masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Sementara itu, fase kedua yang saat ini sedang dibahas memproyeksikan pengaturan yang lebih permanen, termasuk rekonstruksi total Gaza dan pembentukan kerangka kerja pemerintahan. Kendati demikian, berbagai hambatan besar masih membayangi proses ini, termasuk adanya perbedaan pendapat mengenai masa depan Hamas serta peran Otoritas Palestina di Gaza kelak.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency