Skip to main content

Peneliti sekaligus profesor dari Universitas Johns Hopkins, Esfandyar Batmanghelidj, menilai bahwa blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tidak akan memicu keruntuhan ekonomi Teheran. Melalui analisisnya di platform X, beliau menjelaskan bahwa strategi semacam ini sebenarnya sudah pernah diuji oleh Donald Trump sebelumnya. Meskipun ekspor minyak Iran sempat menyentuh angka nol pada paruh kedua 2019 yang dibarengi tekanan rantai pasok serta kontraksi ekonomi akibat pandemi, ekonomi Iran terbukti mampu pulih secara bertahap seiring merangkaknya kembali angka ekspor minyak.

Saat ini, produksi minyak Iran telah kembali ke level sebelum sanksi diberlakukan. Menurut beliau, embargo tidak akan memberikan dampak kerusakan yang cukup besar dalam waktu singkat untuk mengubah posisi tawar perundingan demi keuntungan Trump. Beliau memandang situasi saat ini berada dalam posisi yang “seimbang”, dan faktor inilah yang justru memperbesar peluang tercapainya sebuah kesepakatan diplomatik karena dampak sanksi dianggap terbatas dalam jangka pendek.

Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan maritim, di mana blokade Amerika pada pesisir dan pelabuhan Iran memaksa Teheran menutup kembali Selat Hormuz beberapa hari lalu. Langkah penutupan ini diambil hanya berselang beberapa jam setelah Teheran sempat membuka selat tersebut bagi kapal non-militer sebagai bentuk dukungan terhadap gencatan senjata di Lebanon. Laporan The New York Times turut mempertegas bahwa perkembangan terbaru ini menunjukkan kendali penuh Teheran atas Selat Hormuz yang memungkinkan mereka menekan ekonomi global, meskipun wilayahnya telah menjadi sasaran ribuan serangan udara dan blokade laut oleh Amerika Serikat.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Times of Israel