Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengumumkan pada Kamis, 16 April 2026, bahwa negaranya telah bersiap sepenuhnya menghadapi kemungkinan serangan militer dari Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan di hadapan ribuan massa yang memadati jalanan Havana untuk memperingati 65 tahun kemenangan Kuba atas invasi Teluk Babi yang didukung AS pada 1961 silam. Diaz-Canel menegaskan bahwa meskipun tidak ada pihak yang menginginkan konfrontasi, rakyat Kuba memiliki kewajiban untuk bersiap demi menghindari perang, atau memenangkannya jika intervensi tersebut benar-benar terjadi.
Ketegangan ini meningkat setelah Presiden Donald Trump berulang kali memperingatkan bahwa Kuba adalah “target berikutnya” setelah ia berhasil menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan terlibat dalam perang terbuka melawan Iran. Laporan USA Today mengungkapkan bahwa Pentagon secara diam-diam mulai mengintensifkan perencanaan operasi militer di Kuba sebagai antisipasi jika Trump mengeluarkan perintah intervensi mendadak. Meski Washington dan Havana sempat mengadakan pembicaraan untuk meredakan ketegangan, dialog tersebut dilaporkan mengalami kebuntuan dan hanya membuahkan sedikit kemajuan.
Mariela Castro, putri mantan Presiden Raul Castro, menyatakan bahwa rakyat Kuba sebenarnya terbuka untuk berdialog dengan Washington, namun dengan syarat tegas bahwa sistem politik mereka tidak untuk diperdebatkan. Ia juga mengungkapkan bahwa ayahnya yang kini berusia 94 tahun—tokoh di balik normalisasi hubungan era Barack Obama pada 2015—turut memantau situasi secara tidak langsung. Di tengah bayang-bayang sejarah kekalahan telak Amerika pada operasi 1961, Havana kini kembali memperkuat barisan pertahanan nasional guna menangkal ambisi ekspansi pemerintahan Trump di kawasan Karibia.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Associated Press



