Skip to main content

Media Israel pada Jumat, 17 April 2026, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah pendudukan seiring berlakunya gencatan senjata 10 hari dengan Lebanon. Surat kabar Maariv mengakui bahwa hasil pertempuran di Lebanon Selatan justru terasa “lebih pahit” karena target-target perang tidak tercapai. Avi Ashkenazi, analis urusan militer, menyindir bahwa operasi yang dimulai dengan nama megah “Auman Singa” kini berakhir tragis menyerupai “meongan kucing” karena seluruh skenario militer yang disusun pemerintah runtuh dengan sendirinya.

Kekecewaan mendalam menyelimuti para pemukim di wilayah utara Palestina yang diduduki, yang merasa diabaikan sepenuhnya oleh kabinet Benjamin Netanyahu. Ashkenazi menegaskan bahwa bagi Netanyahu, penduduk utara hanyalah “warga negara tak terlihat” yang tidak masuk dalam pertimbangan keamanan dan terus dicekoki janji-janji kosong mulai dari pembangunan bunker hingga fasilitas teknologi canggih yang tak kunjung terealisasi. Para pemimpin pemukiman bahkan melabeli perjanjian ini sebagai “instrumen menyerah” dan bentuk pengkhianatan terbuka terhadap mereka yang selama ini berada di garis depan konflik.

Kegagalan militer Israel ini dipandang sebagai kemenangan diplomatik bagi Teheran, di mana Amerika Serikat kini secara implisit mengakui peran dominan Iran sebagai penentu keputusan di Lebanon. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengonfirmasi bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian integral dari pemahaman yang lebih luas antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat. Baghaei menekankan bahwa Iran sejak awal menuntut gencatan senjata serentak di seluruh kawasan dan mengapresiasi Pakistan atas peran mediasinya yang intensif dalam beberapa jam terakhir sebelum kesepakatan tercapai.

Meskipun gencatan senjata sementara ini telah berlaku sejak tengah malam antara Kamis dan Jumat, posisi Iran tetap tegas menuntut penarikan penuh pasukan pendudukan Israel dari wilayah Lebanon Selatan. Teheran juga mendesak pembebasan tahanan, pemulangan pengungsi, serta rekonstruksi infrastruktur Lebanon yang hancur dengan dukungan internasional. Bagi publik Israel, situasi ini dianggap sebagai trik politik kepemimpinan Netanyahu untuk menutupi kegagalan militer, yang justru menempatkan posisi tawar Iran jauh lebih unggul di mata Washington dan dunia internasional.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumbe gambar: Times of Israel