Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan serangkaian upaya diplomatik intensif di Islamabad pada Senin, 13 April 2026, guna membahas kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat. Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot, Araqchi menegaskan bahwa Iran telah memasuki meja perundingan dengan pendekatan yang bertanggung jawab dan itikad baik, meskipun memiliki ketidakpercayaan yang mendalam terhadap pihak Amerika. Menurut keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, kemajuan negosiasi terhenti karena Washington terus mengubah tuntutan dan menunjukkan sikap “tamak” yang mencegah tercapainya kesepakatan permanen.
Selain komunikasi dengan pihak Prancis, Araqchi juga menjalin kontak melalui telepon dengan menteri luar negeri dari Oman, Arab Saudi, dan Qatar. Kepada Menlu Saudi Faisal bin Farhan, Araqchi memperingatkan risiko besar dari “tindakan provokatif Amerika” setelah pengumuman gencatan senjata. Arab Saudi menyatakan dukungannya terhadap upaya diplomatik tersebut dengan harapan perang dapat berakhir sepenuhnya. Sementara itu, dalam pembicaraan dengan Menlu Qatar, Araqchi menyoroti pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh entitas Zionis di Lebanon, sembari menegaskan bahwa Iran akan tetap tegas dalam membela kedaulatan nasionalnya meskipun menempuh jalur diplomasi demi perdamaian regional.
Meskipun delegasi Iran menunjukkan sikap positif di Islamabad—termasuk kesiapan yang dinyatakan oleh Wakil Ketua Parlemen Ali Nikzad untuk mengencerkan 450 kilogram uranium yang diperkaya sebagai tanda itikad baik—negosiasi tersebut berakhir tanpa hasil. Teheran menyebut tuntutan Amerika Serikat sangat tidak masuk akal dan berlebihan. Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru menyatakan ketidaktertarikannya untuk melanjutkan pembicaraan setelah mengumumkan blokade laut di Selat Hormuz, sebuah langkah yang dinilai Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum maritim internasional.
Menanggapi ketidakpastian diplomasi ini, Kepala Kehakiman Iran Gholam Hossein Mohseni Ejei memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran tetap dalam posisi “jari di atas pelatuk” dan tidak akan berkompromi selama masa gencatan senjata sementara. Ejei juga menegaskan bahwa otoritas yudisial telah menetapkan status perang dalam memburu agen-agen musuh dengan ketegasan maksimal. Sejalan dengan itu, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya kembali mengeluarkan peringatan keras bahwa ancaman terhadap keamanan pelabuhan-pelabuhan Iran akan dibalas dengan tindakan yang membuat tidak ada satu pun pelabuhan di kawasan tersebut berada dalam kondisi aman.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Global Village Space



