Peringatan keras datang dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya pada Senin, 9 Maret 2026, menyusul serangan “brutal dan tanpa batas” oleh Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan infrastruktur bahan bakar, energi, serta pusat layanan publik di Iran. Juru bicara markas tersebut menegaskan bahwa selama ini angkatan bersenjata Iran telah menahan diri untuk tidak membalas dengan cara serupa demi menjaga kepentingan rakyat Muslim di negara-negara tetangga. Namun, ia memperingatkan bahwa jika agresi terhadap fasilitas publik Iran tidak segera dihentikan, Teheran akan menggunakan kapabilitas ofensif dan intelijennya untuk menghancurkan infrastruktur energi lawan di seluruh kawasan. Pesan ini sangat jelas: jika pihak agresor siap menghadapi harga minyak yang melonjak hingga lebih dari $200 per barel, maka mereka dipersilakan melanjutkan serangan tersebut.
Kekhawatiran akan kelumpuhan ekonomi dunia ini diperkuat oleh laporan lembaga keuangan global. Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak bisa segera melampaui $100 dan bahkan mencapai $150 per barel pada akhir bulan ini. Hal ini dipicu oleh penurunan drastis pasokan melalui Selat Hormuz yang kini hanya beroperasi 10% dari kapasitas normal akibat blokade efektif Iran. Analisis bank investasi tersebut menunjukkan bahwa guncangan pasokan saat ini 17 kali lebih besar dibandingkan puncak gangguan produksi Rusia pada tahun 2022. Sepanjang tahun 2026 saja, harga minyak telah melonjak lebih dari 50% dari posisi awal $60 per barel, dengan kenaikan tajam sebesar $10 hanya dalam satu hari pada Jumat lalu.
Di tingkat politik, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa kelanjutan perang dengan pola serangan terhadap infrastruktur energi akan mematikan total kemampuan produksi dan penjualan minyak di kawasan, yang pada akhirnya akan menghancurkan kepentingan ekonomi Amerika Serikat serta seluruh dunia. Krisis ini telah memaksa pemerintahan Trump berada dalam posisi terjepit; laporan dari The Guardian menyebutkan bahwa Washington mulai mempertimbangkan untuk mencabut lebih banyak sanksi terhadap minyak Rusia guna meredam lonjakan harga energi domestik yang kian tak terkendali.
Sementara itu, kekuatan militer Iran terus membuktikan ancamannya melalui penghancuran empat sistem radar THAAD milik AS di Yordania, UEA, dan Arab Saudi (wilayah Rabah, Ruwais, Al-Kharj, dan Al-Azraq). Lumpuhnya deteksi dini ini, dikombinasikan dengan defisit pasokan sebesar 20 juta barel per hari di pasar global, menunjukkan bahwa strategi “tekanan maksimum” Trump justru berbalik menjadi bumerang ekonomi. Pengamat energi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai bahwa pasar tidak lagi memberikan toleransi terhadap kebijakan Trump yang menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, karena dampak kerusakannya kini mengancam stabilitas finansial global jauh melampaui rekor krisis tahun 2008 dan 2022.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



