Ketegangan politik di Washington memuncak pada hari Jumat, 6 Maret 2026, setelah Kongres Amerika Serikat gagal meloloskan undang-undang yang dirancang untuk membatasi wewenang Presiden Donald Trump dalam melanjutkan perang melawan Iran. Hasil pemungutan suara yang berakhir dengan angka 219 berbanding 212 tersebut mencerminkan pembelahan tajam antara Partai Republik dan Demokrat, di mana mayoritas pendukung Trump tetap memberikan lampu hijau bagi kelanjutan operasi militer. Kegagalan di tingkat Kongres ini menyusul keputusan Senat AS sehari sebelumnya yang juga menolak resolusi serupa dengan perbandingan suara 53 berbanding 47. Dengan demikian, Trump tetap memiliki landasan hukum domestik yang kuat untuk meneruskan agresi yang dimulai sejak 28 Februari lalu, meskipun tindakan tersebut secara terang-terangan mengabaikan proses negosiasi nuklir yang sedang berlangsung melalui mediasi Oman.
Di kancah internasional, agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel ini mulai mendapat kecaman keras dari sekutu Barat sendiri. Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, menyatakan secara terbuka pada hari Kamis bahwa serangan tersebut telah melampaui batas-batas hukum internasional dan melanggar prinsip dasar Piagam PBB. Pernyataan tegas ini muncul setelah adanya desakan dari anggota parlemen oposisi Italia yang menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran norma perang global. Sementara itu, dampak kemanusiaan di lapangan semakin memprihatinkan setelah Yayasan Syuhada dan Korban Perang Iran merilis data terbaru yang menunjukkan angka kematian warga Iran telah melonjak menjadi 1.230 orang hingga Kamis malam, akibat serangan yang terus menyasar wilayah pemukiman dan infrastruktur publik.
Krisis ini juga telah mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan stabilitas ekonomi global, terutama di wilayah Eropa dan Israel sendiri. Indeks saham Stoxx Europe 600 tercatat turun 1,4% pada penutupan perdagangan hari Kamis, menambah akumulasi kerugian mingguan menjadi 4,7%. Bursa utama seperti DAX Jerman, CAC 40 Prancis, dan FTSE 100 Inggris semuanya mengalami kemerosotan tajam karena kekhawatiran investor terhadap guncangan inflasi akibat lonjakan harga energi. Di pihak lain, Kementerian Keuangan Israel memperingatkan bahwa ekonomi mereka saat ini berada dalam kondisi darurat dengan estimasi kerugian mencapai 9,4 miliar shekel atau setara 2,93 miliar dolar AS setiap minggunya selama status keamanan tingkat merah tetap diberlakukan oleh Komando Front Dalam Negeri.
Pembatasan ketat di tingkat merah tersebut memaksa penutupan sekolah di seluruh Israel, pelarangan kerumunan massa, dan penghentian aktivitas perkantoran kecuali untuk sektor esensial, yang secara otomatis mematikan roda produktivitas nasional. Meskipun kementerian terkait telah berupaya meminta penurunan status ke tingkat oranye guna menekan kerugian menjadi 4,3 miliar shekel per minggu, eskalasi balasan dari Iran yang terus menghujani wilayah pendudukan dengan rudal dan drone membuat pelonggaran tersebut sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat. Situasi ini menunjukkan bahwa serangan yang dipicu oleh syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei telah berkembang menjadi beban ekonomi yang sangat berat bagi Israel.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: BBC



