Situasi di front selatan Lebanon mencatatkan kemenangan taktis signifikan bagi Perlawanan Islam (Hizbullah) pada hari Rabu, 4 Maret 2026. Hizbullah secara resmi mengonfirmasi penarikan mundur pasukan pendudukan Israel dari kota perbatasan strategis, Khiam. Setelah pertempuran heroik yang berlangsung sengit, tentara Israel terpaksa menarik sisa-sisa kendaraan tempur dan personel mereka kembali ke Bukit Hamams setelah terjebak dalam jebakan maut yang disiapkan para pejuang Lebanon. Sebelumnya, Hizbullah melaporkan telah mendeteksi pergerakan pasukan bantuan Israel yang mencoba menolong unit mereka yang terjepit di lingkungan selatan Khiam, namun pasukan bantuan tersebut justru dihujani berondongan roket di Khallat Wadi al-Asafir.
Di tengah kegagalan operasi darat musuh, Hizbullah meluncurkan serangan balasan udara yang sangat dalam hingga menjangkau pusat kekuatan Israel. Pangkalan “Tel Hashomer”, yang terletak di tenggara Tel Aviv, menjadi target rentetan rudal berkualitas tinggi. Di utara, pangkalan udara “Ramat David” juga kembali dihantam oleh skuadron drone penyerang, bersamaan dengan serangan drone yang menyasar markas besar dua brigade di pangkalan “Ein Zeitim”, utara kota Safed. Selain itu, kompleks industri militer raksasa milik perusahaan Rafael di selatan Acre tidak luput dari gempuran drone Hizbullah, yang menunjukkan kemampuan perlawanan dalam melumpuhkan pusat produksi senjata strategis musuh.
Di garis depan lainnya, pertempuran jarak dekat terus berkecamuk. Pada Rabu malam pukul 23:20, pejuang Hizbullah terlibat bentrok langsung dengan pasukan infanteri Israel yang mencoba menyusup menuju kota Al-Dhahira, mengakibatkan jatuhnya banyak korban di pihak penyerang. Serangan roket juga terus menghujani pemukiman Kiryat Shmona, di mana helikopter evakuasi Israel terlihat hilir mudik untuk mengangkut tentara yang terluka akibat hantaman langsung roket perlawanan. Seluruh rangkaian operasi ini ditegaskan sebagai balasan atas agresi kriminal Israel yang telah menghancurkan banyak kota di Lebanon, termasuk pengeboman brutal di pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh).
Secara diplomatik, tekanan terhadap pemerintah Israel meningkat. Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui platform X menyatakan bahwa dirinya telah mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk tidak melanjutkan inkrusi darat ke Lebanon dan menekankan pentingnya semua pihak kembali ke kesepakatan gencatan senjata. Namun, di lapangan, Hizbullah tetap pada posisi siaga penuh, membuktikan bahwa setiap upaya infiltrasi darat akan dihadapi dengan perlawanan keras yang mampu memukul mundur tank-tank dan infanteri musuh kembali ke garis perbatasan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: China Daily


