Memasuki hari kelima konfrontasi besar di Timur Tengah pada Kamis, 5 Maret 2026, dukungan diplomatik terhadap Iran mulai menguat dari kekuatan global. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, melakukan panggilan telepon kepada Menlu Abbas Araqchi untuk menyampaikan belasungkawa mendalam atas syahadah pemimpin tertinggi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei serta gugurnya sejumlah pemimpin militer dan warga sipil. Lavrov menegaskan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap kedaulatan Iran merupakan pelanggaran fatal terhadap prinsip dasar hukum internasional dan Piagam PBB yang akan membawa konsekuensi sangat serius bagi stabilitas keamanan global. Araqchi merespons dengan memaparkan bukti-bukti kejahatan perang yang dilakukan agresor, termasuk penghancuran area pemukiman, sekolah, masjid, dan rumah sakit.
Sentimen serupa juga datang dari Eropa melalui Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot. Dalam pembicaraan telepon dengan Araqchi, Barrot menyatakan posisi resmi Prancis bahwa agresi militer AS-Israel bertentangan dengan hukum internasional dan menyatakan harapannya agar ketenangan segera pulih di kawasan. Dalam percakapan tersebut, Menlu Araqchi merinci tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam lima hari terakhir, termasuk pembantaian lebih dari 175 siswa sekolah dasar di kota Minab akibat serangan udara, serta penghancuran infrastruktur layanan publik dan pos polisi diplomatik. Araqchi menekankan bahwa seluruh dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki tanggung jawab moral untuk mengutuk tindakan kriminal ini tanpa keraguan.
Di pihak internal, Teheran menunjukkan sikap keras dengan memutus seluruh jalur komunikasi dengan Washington. Seorang pejabat tinggi Iran menyatakan kepada kantor berita Tasnim bahwa Iran tidak mengirimkan pesan apa pun kepada Amerika Serikat dan tidak akan menanggapi pesan apa pun dari mereka. Hal ini membantah laporan sepihak dari sumber AS yang dikutip Axios yang mengeklaim adanya komunikasi rahasia. Pejabat tersebut menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah mempersiapkan diri sepenuhnya untuk menghadapi skenario perang jangka panjang. Tantangan ini dipertegas oleh komandan senior Angkatan Laut IRGC yang meremehkan janji Presiden Donald Trump untuk mengawal kapal komersial di Selat Hormuz; sang komandan menantang Trump untuk benar-benar mengirimkan armadanya ke zona bahaya tersebut, sembari menegaskan bahwa Washington tidak akan mampu mengevakuasi pasukannya yang terdampar di Teluk maupun membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Operasi True Promise 4 kini telah memasuki fase kelima, di mana Iran secara konsisten meluncurkan serangan balasan terhadap kepentingan dan pangkalan Amerika Serikat di seluruh kawasan serta pusat komando entitas pendudukan Israel. Dengan jumlah korban gugur warga Iran yang terus meningkat—termasuk pemimpin mereka—koordinasi antara militer Iran dan kelompok perlawanan regional di Irak dan Lebanon semakin solid. Pesan dari Teheran pada hari Kamis ini sangat jelas: tidak akan ada ruang untuk diplomasi dengan agresor, dan setiap jengkal tanah yang dilanggar akan dibayar dengan perlawanan berlarut-larut hingga hak-hak rakyat Iran serta kehormatan pemimpin mereka terpulihkan.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Saba



