Skip to main content

Di tengah eskalasi global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras kepada para pemimpin Partai Republik di DPR pada hari Selasa, 6 Januari 2026. Trump menyatakan bahwa kehilangan mayoritas kursi di pemilu paruh waktu mendatang dapat memicu lawan politiknya dari Partai Demokrat untuk menghidupkan kembali upaya pemakzulan (impeachment) terhadap dirinya. Ia berargumen bahwa Demokrat akan mencari pembenaran untuk menuntutnya, terutama setelah operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela. Sebagaimana diketahui, Trump sebelumnya telah menghadapi dua kali proses pemakzulan pada masa jabatan pertamanya terkait urusan Ukraina dan peristiwa Capitol Hill, meski keduanya berakhir dengan pembebasan oleh Senat.

Sementara itu, data yang dipublikasikan oleh situs Declassified mengungkapkan peran krusial Britania Raya dalam upaya destabilisasi di Venezuela. Meskipun Perdana Menteri Keir Starmer membantah keterlibatan langsung dalam penculikan Nicolas Maduro, laporan tersebut menunjukkan bahwa elemen Angkatan Laut Kerajaan Inggris telah dikerahkan bersama armada AS di sekitar Venezuela dalam beberapa pekan terakhir. Sikap Starmer yang enggan mengecam serangan tersebut—berbeda jauh dengan kecaman cepatnya terhadap Rusia atas Ukraina—memicu kritik tajam dari para diplomat yang menilai London mengabaikan prinsip hukum internasional demi kepentingan politik dan ekonomi.

Laporan tersebut lebih lanjut mengungkap bahwa sejak 2019, London telah membekukan emas milik Venezuela senilai lebih dari dua miliar dolar di Bank of England. Bahkan, Inggris sempat membentuk unit rahasia bernama “Venezuela Reconstruction Unit” untuk merancang rencana pasca-jatuhnya Maduro, yang berkaitan erat dengan kepentingan raksasa minyak seperti Shell dan BP. Meski Starmer mengeklaim pembekuan berbagi intelijen untuk menghindari komplikasi hukum, fakta menunjukkan bahwa dukungan Inggris terhadap strategi “perubahan rezim” yang diusung Trump telah berlangsung sistematis melalui pendanaan organisasi internal di Venezuela dengan kedok pemberantasan korupsi.

Di sisi lain, ancaman perluasan agresi Amerika Serikat mulai mengarah ke Kuba. Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, menyatakan pada hari Selasa bahwa Donald Trump menunjukkan ketidaktahuan total atas realitas negaranya melalui agenda kebohongan dan perang ekonomi. Pernyataan ini muncul setelah Trump mengeklaim bahwa Kuba “siap runtuh dengan sendirinya,” yang diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa Kuba sedang mengalami kehancuran ekonomi. Menanggapi retorika tersebut, Parrilla menegaskan bahwa rakyat Kuba siap mempertahankan tanah air mereka hingga titik darah penghabisan terhadap agresi imperialis mana pun.

Situasi regional kini semakin tegang menyusul konfirmasi bahwa operasi Amerika Serikat di Venezuela tidak hanya menculik Nicolas Maduro dan istrinya, tetapi juga secara sistematis menargetkan pelabuhan, basis militer, dan bandara guna melumpuhkan infrastruktur negara tersebut.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Gulte