Skip to main content

Eskalasi perlawanan regional terhadap keberadaan Amerika Serikat di Timur Tengah meningkat tajam pada hari Kamis, 5 Maret 2026. Kelompok Perlawanan Islam di Irak, khususnya faksi Saraya Awliya al-Dam, mengumumkan peluncuran serangan besar-besaran menggunakan skuadron drone yang menargetkan pangkalan militer AS di dekat Bandara Erbil. Operasi ini ditegaskan sebagai aksi pembalasan atas syahadah pemimpin tertinggi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei serta sebagai respons atas gugurnya sejumlah pejuang muda perlawanan Irak akibat agresi udara Amerika-Israel. Dalam waktu 24 jam terakhir, kelompok perlawanan ini mengeklaim telah melaksanakan total 29 operasi militer yang melibatkan puluhan drone dan rudal terhadap berbagai basis militer musuh di Irak dan kawasan sekitar.

Salah satu pencapaian strategis yang dilaporkan adalah keberhasilan penembakan jatuh drone pengintai dan penyerang canggih milik militer AS, MQ-9 Reaper, di langit Provinsi Salah al-Din. Keberhasilan melumpuhkan aset udara bernilai tinggi ini menjadi bukti peningkatan kapabilitas pertahanan udara kelompok perlawanan dalam menghadapi teknologi militer Amerika. Sejauh ini, total operasi yang dilakukan oleh Perlawanan Islam di Irak sejak awal pecahnya konflik dilaporkan telah mencapai puluhan serangan terpadu yang menyasar infrastruktur taktis dan pusat komando militer di wilayah utara dan tengah Irak.

Selain serangan fisik, pihak perlawanan Irak juga mengeluarkan peringatan keras melalui pernyataan resmi terkait keterlibatan negara-negara Eropa dalam konflik ini. Mereka menuding pihak “Zionis-Amerika” sedang berupaya menggalang dukungan dari negara-negara Eropa untuk terlibat dalam perang yang mereka sebut tidak adil terhadap Republik Islam dan rakyat di kawasan. Kelompok perlawanan menegaskan bahwa negara mana pun yang memutuskan untuk berpartisipasi dalam pertempuran ini akan dianggap sebagai musuh, dan seluruh aset serta kepentingan mereka di Irak maupun di kawasan akan menjadi target serangan yang sah sebagai hukuman atas keterlibatan dalam agresi tersebut.

Langkah ofensif dari Irak ini menambah tekanan berat bagi komando militer Amerika Serikat yang saat ini juga tengah menghadapi serangan simultan dari garis depan Lebanon dan gempuran rudal jarak jauh dari IRGC Iran. Dengan lumpuhnya drone MQ-9 dan serangan yang kian mendekati fasilitas vital di Erbil, para pimpinan militer dan dewan fuqaha di kawasan menunjukkan koordinasi pertahanan mosaik yang kian erat. Pesan yang disampaikan sangat jelas: setiap keterlibatan baru dari kekuatan asing hanya akan memperluas cakupan wilayah perang dan meningkatkan jumlah korban di pihak agresor.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency