Situasi di Timur Tengah semakin mencekam pada hari Kamis, 5 Maret 2026, ketika konfrontasi militer antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel memasuki tahap yang lebih agresif. Angkatan Darat Iran mengumumkan keberhasilan penghancuran enam drone Israel, yang mayoritas merupakan tipe “Hermes”, di wilayah Isfahan, Kurdistan, dan Teheran dalam beberapa jam terakhir. Operasi penjatuhan ini dilakukan melalui sistem pertahanan udara lokal yang terintegrasi dalam jaringan Komando Pertahanan Udara Bersama. Bersamaan dengan itu, Teheran mengonfirmasi bahwa seluruh matra pasukannya telah meluncurkan serangan drone terkoordinasi dari berbagai titik di negara tersebut, yang menyasar pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, serta target-target strategis jauh di dalam wilayah pendudukan Israel sebagai bagian dari kelanjutan Operasi True Promise 4.
Di tengah blokade maritim yang kian ketat, seorang komandan senior Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan tantangan terbuka kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menanggapi klaim Trump mengenai pengawalan kapal komersial oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz, sang komandan menegaskan bahwa saat ini tidak ada kapal perang asing yang berani mendekat dalam radius 800 mil dari pesisir Iran. “Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengawal kapal-kapal itu, jadi datanglah dan kawal mereka jika mampu,” tegas sang komandan dalam wawancaranya dengan Kantor Berita Al-Mizan. Beliau menambahkan bahwa Trump tidak akan sanggup mengirim armadanya untuk mengevakuasi mereka yang terdampar di Teluk maupun membuka kembali Selat Hormuz, sembari memperingatkan bahwa dunia kini harus mulai terbiasa dengan hukum kedaulatan Republik Islam.
Mengenai kapabilitas militer yang belum dikerahkan, komandan IRGC tersebut mengungkapkan bahwa hingga hari keempat pertempuran, Iran sebenarnya belum menunjukkan banyak dari rencana strategis mereka. Beliau menyatakan bahwa selain rudal dan drone, Iran masih menyimpan rencana besar untuk keterlibatan langsung yang jauh lebih menghancurkan bagi pasukan Amerika. Peringatan keras juga ditujukan kepada tentara bayaran Amerika yang kini dilaporkan bersembunyi di hotel-hotel sipil di kawasan; IRGC bersumpah akan mengejar mereka hingga ke tempat persembunyian terkecil sekalipun. “Mereka tidak akan aman di mana pun,” tegasnya, seraya menyerukan agar pasukan Amerika segera meninggalkan wilayah Teluk yang kini telah sepenuhnya menjadi area operasi militer Iran.
Gelombang baru serangan rudal dan drone yang diluncurkan IRGC dalam beberapa jam terakhir ini mempertegas posisi Teheran untuk terus membalas agresi Amerika-Israel yang telah menelan korban jiwa lebih dari 700 warga sipil Iran. Dengan klaim kendali penuh atas jalur pelayaran energi dunia dan keberhasilan menjatuhkan total 28 drone musuh sejak awal agresi, para pimpinan militer dan dewan fuqaha di Teheran menegaskan bahwa Operasi True Promise 4 akan terus berlanjut hingga seluruh ancaman terhadap kedaulatan tanah air dan syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei terbalaskan sepenuhnya. Kondisi ini menempatkan Washington dalam posisi sulit, di mana strategi atrisi Iran terus menguras stok amunisi mereka sementara ancaman di laut lepas semakin nyata.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Tasnim News Agency



