Situasi di Timur Tengah memanas drastis pada hari Senin, 2 Maret 2026, setelah Penasihat Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ibrahim Jabari, mengumumkan penutupan resmi Selat Hormuz bagi seluruh aktivitas pelayaran. Jabari memberikan peringatan keras bahwa militer Iran tidak akan ragu untuk membakar kapal apa pun yang mencoba melintasi jalur strategis tersebut serta mengancam akan menargetkan pipa-pipa minyak di kawasan. Penutupan ini memicu kekhawatiran global akan terhentinya pasokan energi, di mana Jabari memprediksi harga minyak dunia bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel dalam beberapa hari ke depan akibat agresi Amerika-Israel yang terus berlanjut.
Di tengah ancaman blokade tersebut, IRGC meluncurkan gelombang ketigabelas Operasi True Promise 4 pada hari Senin, 2 Maret 2026, menggunakan unit drone angkatan laut untuk menyerang posisi-posisi musuh. Target utama dalam gelombang ini adalah pangkalan Korps Marinir AS di Camp Arifjan, Kuwait, yang dilaporkan mengalami kerusakan signifikan. Selain itu, serangan udara Iran juga menyasar sisa-sisa fasilitas Angkatan Laut AS di Bahrain melalui hantaman enam drone. Di perairan Selat Hormuz, kapal tanker bahan bakar “Athens Nova” yang diduga terafiliasi dengan kepentingan Amerika dilaporkan masih terbakar hebat setelah dihantam oleh dua drone Iran sebagai balasan atas syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Eskalasi serangan berlanjut hingga Selasa dini hari, 3 Maret 2026, ketika IRGC mengumumkan keberhasilan operasi yang menargetkan gedung komando presidensial di pangkalan Sheikh Isa, Bahrain. Serangan terkonsentrasi yang melibatkan 20 drone dan 3 rudal ini dilaporkan menghancurkan gedung komando utama serta markas komando angkatan laut di pangkalan tersebut, disertai dengan kebakaran besar pada tangki-tangki bahan bakarnya. Di Uni Emirat Arab, IRGC juga mengonfirmasi serangan terhadap titik berkumpulnya pasukan Marinir AS di Dubai, yang diklaim menargetkan lebih dari 160 personel militer Amerika di lokasi tersebut.
Efektivitas pertahanan udara Iran terus mencatatkan angka tinggi dalam menghalau serangan udara agresor. Pada hari Senin, 2 Maret 2026, kantor hubungan masyarakat IRGC mengumumkan penembakan jatuh drone “Hermes” ke-21 di kota Bushehr melalui sistem pertahanan udara Angkatan Laut IRGC. Sebelumnya, pada hari Minggu, tentara Iran telah melaporkan penghancuran 10 drone canggih musuh, yang membawa total aset udara agresor yang berhasil ditembak jatuh menjadi 22 unit sejak awal peperangan. Rentetan operasi militer ini menjadi sinyal dari para fuqaha dan pimpinan militer di Teheran bahwa Iran telah mengerahkan kapabilitas pertahanan mosaiknya secara penuh untuk mempertahankan kedaulatan tanah air mereka.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Shafaq News



