Skip to main content

Otoritas keagamaan tertinggi di Irak, Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali al-Sistani, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada rakyat Iran dan seluruh umat Muslim atas gugurnya pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei, pada Minggu, 1 Maret 2026. Dalam pernyataan resminya, beliau secara lugas mengutuk agresi militer berskala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan entitas Zionis sebagai upaya terencana untuk menghancurkan stabilitas kawasan. Melalui pernyataan tertulis, beliau menyampaikan kutipan langsung sebagai berikut:

“Dengan kesedihan yang mendalam, saya menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran yang terhormat dan seluruh umat Islam atas syahadah Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Yang Mulia Ayatullah Sayyid Khamenei (semoga Allah meridainya). Kedudukan tinggi serta peran unik beliau dalam memimpin Republik Islam Iran selama bertahun-tahun telah jelas bagi semua orang, dan tidak ada keraguan bahwa musuh bermaksud, melalui kesyahidannya dan peluncuran agresi militer skala luas terhadap Iran, untuk menimbulkan kerugian besar bagi negara tercinta ini.”

Lebih lanjut, pemimpin spiritual di Najaf tersebut memberikan arahan strategis bagi bangsa Iran agar tetap teguh dan tidak terprovokasi oleh agenda pecah belah yang diusung oleh para agresor. Beliau menegaskan pentingnya solidaritas internal di tengah gempuran Operasi True Promise 4 yang masih berkecamuk di berbagai front. Dalam seruannya, beliau menyatakan:

“Rakyat Iran yang besar diharapkan untuk menjaga persatuan mereka, merapatkan barisan, dan tidak membiarkan para agresor mencapai tujuan jahat mereka. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk memberikan derajat tertinggi dan anugerah ilahi kepada mendiang, serta memberikan kesabaran yang indah dan pahala yang besar bagi semua orang yang berduka atas kehilangannya.”

Pernyataan dari sosok Marja’ Taqlid paling berpengaruh di Irak ini dipandang sebagai dukungan moral yang sangat kuat bagi keberlanjutan kedaulatan Iran dan Poros Perlawanan. Dengan menggunakan istilah teknis yang lazim di media Islam, seruan ini menegaskan bahwa kepergian sang Rahbar justru menjadi pemersatu bagi kekuatan umat dalam menghadapi arogansi global. Melalui penegasan posisi beliau, umat Islam diingatkan bahwa musuh tengah berupaya memanfaatkan momen duka ini untuk melemahkan fondasi negara, sehingga persatuan antara elemen rakyat dan militer menjadi kunci utama dalam memenangkan pertempuran yang sedang berlangsung.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Shafaq News