Skip to main content

Pemimpin gerakan Ansar Allah, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan adanya indikasi kuat mengenai persiapan Amerika Serikat untuk meluncurkan eskalasi baru di kawasan Timur Tengah setelah kegagalan gelombang serangan sebelumnya. Dalam pernyataannya, beliau mengkritik tajam beberapa rezim Arab yang dinilai secara aktif melayani kepentingan politik, media, dan intelijen Amerika Serikat serta Israel. Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menyatakan bahwa Washington konsisten mengabaikan komitmen internasionalnya dan kini beralih menerapkan blokade pelabuhan terhadap Iran, sebuah tindakan sepihak yang memperburuk stabilitas ekonomi global. Menurutnya, prioritas utama Donald Trump adalah mengabdi pada kepentingan Tel Aviv, bahkan dengan mengorbankan kepentingan domestik Amerika Serikat sendiri.

Beliau juga menyayangkan sikap beberapa penguasa Arab yang tidak mengambil pelajaran dari konflik sebelumnya mengenai risiko besar menampung pangkalan militer Amerika Serikat yang digunakan untuk menyerang Iran. Rezim-rezim tersebut bahkan dinilai menanggung beban finansial yang lebih besar demi melindungi pangkalan Barat dan menjaga entitas Israel. Sayyid Abdul-Malik al-Houthi mengungkapkan bahwa pembentukan “Israel Raya” serta perombakan peta Timur Tengah merupakan doktrin bersama yang dinyatakan secara terbuka oleh Amerika Serikat dan Israel. Sebagai bukti konkret, beliau membeberkan adanya latihan militer Israel pada pekan ini yang mensimulasikan serangan mendadak terhadap Mesir dan Yordania, seraya mengingatkan bahwa peta ekspansi Zionis secara nyata mencakup seluruh wilayah Syam dan sebagian besar wilayah Mesir.

Mengenai situasi di Lebanon, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi memuji efektivitas kepemimpinan dan operasi militer Hizbullah yang berhasil menimbulkan kerugian besar serta memberikan tekanan masif pada pasukan pendudukan Israel. Beliau menyerukan kepada otoritas pemerintah Lebanon untuk memanfaatkan momentum kemenangan lapangan ini sebagai posisi tawar guna memaksa Israel menghentikan agresi secara total dan menarik mundur pasukannya. Beliau menegaskan bahwa serangan terhadap warga di Lebanon Selatan merupakan ancaman langsung terhadap kedaulatan seluruh negeri, sekaligus mengecam faksi politik domestik tertentu di Lebanon yang justru menyalahkan Hizbullah dan mencoba menikam perlawanan dari belakang demi membiarkan tangan musuh bebas beroperasi.

Terkait isu regional lainnya, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menyoroti bahwa kelompok-kelompok yang mengendalikan Suriah saat ini mencoba mencari perdamaian dengan Israel, namun upaya tersebut sia-sia karena pasukan pendudukan tetap menolak mundur dan terus melanjutkan pelanggaran harian, termasuk penculikan, pembunuhan, dan penjarahan di Suriah Selatan. Beralih ke isu Palestina, beliau mengecam keras penargetan terhadap Komandan Brigade Al-Qassam, Izz al-Din al-Haddad, dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya terhadap simbol perjuangan Palestina. Di tengah pembantaian massal yang kian meningkat di Jalur Gaza, beliau menegaskan bahwa umat Islam memiliki kewajiban moral untuk memasok segala jenis persenjataan bagi rakyat Palestina demi mempertahankan kemerdekaan mereka, seraya mengkritik tekanan beberapa negara Arab yang justru mendesak pelucutan senjata milisi perlawanan.

Beliau juga memperingatkan konspirasi Zionis yang kian masif dalam merusak Masjid Al-Aqsa demi membangun kuil fiktif, yang berjalan beriringan dengan perampasan tanah dan perluasan pemukiman ilegal di Tepi Barat pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai langkah konkret, beliau menyerukan optimalisasi boikot ekonomi dan politik global yang dinilai sangat efektif dalam melemahkan kekuatan musuh, serta mengecam keras aksi penodaan kembali terhadap Al-Qur’an di Amerika Serikat sebagai bagian dari kampanye permusuhan sistematis terhadap Islam.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Press TV