Skip to main content

Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menegaskan pada Selasa, 24 Februari 2026, bahwa prioritas utama Presiden Donald Trump dalam menangani Iran tetaplah melalui jalur diplomasi. Meskipun demikian, Karoline Leavitt juga memberikan peringatan keras bahwa Presiden siap menggunakan kekuatan mematikan jika situasi mendesak, seraya menekankan bahwa Donald Trump adalah pemegang keputusan akhir dalam setiap tindakan militer. Di saat yang sama, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menyiapkan laporan mendalam bagi para pemimpin senior Kongres untuk membahas perkembangan terkini mengenai ancaman keamanan dari Teheran. Di tengah retorika keras tersebut, laporan media Amerika Serikat menyebutkan adanya ketegangan internal di Washington, di mana Donald Trump merasa tidak puas dengan opsi militer yang terbatas dan peringatan dari para penasihatnya mengenai risiko perang jangka panjang.

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Keane secara khusus memperingatkan bahwa tindakan militer apa pun terhadap Iran berpotensi menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik berlarut-larut yang akan menguras sumber daya besar di Timur Tengah. Berbagai sumber intelijen yang dikutip oleh CBS News juga menyatakan keraguan bahwa serangan terbatas akan memberikan hasil diplomatik yang menentukan, melainkan hanya akan memaksa penambahan ribuan personel militer ke wilayah tersebut. Ketidaksabaran Donald Trump dilaporkan bersumber dari ambisinya untuk mengubah posisi tawar di meja perundingan melalui tindakan yang dramatis. Kondisi ini menjadi semakin kompleks mengingat hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan 61% masyarakat Amerika Serikat menganggap perilaku Donald Trump semakin tidak menentu seiring bertambahnya usia, sementara 49% warga secara terbuka menentang setiap rencana serangan militer terhadap Iran.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Politico