Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas pada Senin, 23 Februari 2026, memberikan peringatan keras mengenai potensi meluasnya cakupan perang dengan Iran yang tidak akan terbatas pada satu wilayah saja, melainkan dapat menjalar ke seluruh kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kaja Kallas dalam sebuah konferensi pers di Brussels saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan isyarat mengenai kemungkinan penggunaan opsi militer terhadap Teheran jika proses negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Situasi ini berkembang di saat berbagai delegasi sedang bersiap untuk memulai putaran baru pembicaraan mengenai program nuklir Iran, yang dipandang oleh banyak pihak sebagai salah satu kesempatan terakhir untuk menghindari konfrontasi militer secara terbuka.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa sebuah armada besar sedang bergerak menuju wilayah Iran dan menyampaikan harapannya agar pemerintah Iran bersedia merundingkan sebuah kesepakatan yang adil yang mencakup penghapusan total senjata nuklir. Namun, di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu, 8 Februari 2026, telah menegaskan kembali bahwa pihak Iran tetap bersikeras pada hak kedaulatan mereka untuk melakukan pengayaan uranium. Menanggapi ketegangan yang terus meningkat, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Dmitry Lyubinsky menyatakan kesiapan Moskow untuk memfasilitasi solusi diplomatik guna menyelesaikan perselisihan antara Iran dan Amerika Serikat. Melalui media Russia Today pada Senin, 23 Februari 2026, Dmitry Lyubinsky menyerukan agar Amerika Serikat dan para sekutunya membatalkan rencana serangan terhadap fasilitas nuklir damai milik Iran serta menuntut Washington memberikan jaminan mutlak bahwa konflik militer tidak akan pecah di masa depan.
Upaya diplomatik juga diperkuat oleh Perwakilan Rusia untuk organisasi internasional Mikhail Ulyanov yang melakukan pertemuan bersama perwakilan tetap Tiongkok dan Iran di Wina dengan didampingi oleh Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi. Dalam pertemuan tersebut, Mikhail Ulyanov menekankan pentingnya penyelesaian seluruh masalah nuklir Iran melalui jalur politik dan diplomatik murni serta memastikan bahwa kerja sama antara misi diplomatik Moskow, Beijing, dan Teheran akan terus berlanjut. Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Kamis, 19 Februari 2026, mengakui adanya eskalasi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan tersebut namun tetap menyerukan agar semua pihak, termasuk Iran, dapat menahan diri dan mengutamakan sarana negosiasi. Terkait dengan pelaksanaan latihan militer gabungan antara Rusia dan Iran, Dmitry Peskov menjelaskan bahwa manuver tersebut merupakan agenda yang telah direncanakan dan disepakati jauh sebelumnya, sehingga tidak berkaitan langsung dengan situasi ketegangan yang terjadi saat ini.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Anadolu Agency


