Skip to main content

Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat semakin memuncak setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan babak baru sanksi pada hari Jumat, 30 Januari 2026. Sanksi ini menargetkan sedikitnya tujuh warga negara Iran dan satu entitas yang dianggap terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia serta jaringan kontra-terorisme. Langkah Washington ini menyusul tindakan serupa dari Uni Eropa, di mana pada hari Kamis, para menteri luar negeri Uni Eropa menyetujui paket sanksi baru terhadap individu dan entitas yang dituduh terlibat dalam menindak pengunjuk rasa serta memiliki hubungan dengan dukungan militer Iran terhadap Rusia. Selain itu, Uni Eropa secara resmi memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris, sebuah langkah yang menandai pergeseran diplomatik signifikan di Eropa.

Di tengah sanksi yang kian menjepit, ancaman militer dari Gedung Putih juga terus membayangi. Laporan dari surat kabar The Telegraph menyebutkan bahwa Donald Trump telah menerima daftar opsi militer yang mencakup operasi terselubung di dalam wilayah Iran hingga serangan langsung terhadap kepemimpinan di Teheran. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa meskipun Donald Trump memiliki banyak opsi, ia masih berharap adanya solusi diplomatik sebelum situasi terlambat bagi rezim Iran. Ancaman ini dipertegas oleh Donald Trump pada hari Rabu, ketika ia memperingatkan tentang pengerahan armada tempur menuju Iran yang skalanya jauh lebih besar daripada armada yang dikirim ke Venezuela awal bulan ini, sembari mendesak Teheran untuk segera kembali ke meja perundingan.

Menanggapi gejolak di dalam negeri sebagai bagian dari “perang hibrida” Barat, otoritas keamanan Iran melakukan operasi penangkapan besar-besaran terhadap tokoh-pihak yang mereka sebut sebagai pemimpin kerusuhan bersenjata. Di Provinsi Zanjan, Direktorat Intelijen mengumumkan penangkapan 85 pemimpin aksi yang dituduh terlibat dalam kerusuhan baru-baru ini. Dalam operasi tersebut, pihak keamanan menyita sejumlah senjata militer, senjata berburu, amunisi, serta bom Molotov. Sementara itu, di kota Rudbar, Provinsi Gilan, kepolisian mengklaim telah menangkap 115 orang yang disebut sebagai bagian dari “jaringan teroris Amerika-Zionis”.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa para pelaku kerusuhan bersenjata tersebut mengeksploitasi protes damai untuk melakukan aksi sabotase yang diperintah oleh pihak asing, terutama Mossad dan Amerika Serikat. Para pejabat keamanan melaporkan bahwa dalam penangkapan tersebut ditemukan berbagai perangkat elektronik dan persenjataan yang direncanakan untuk menjalankan plot yang mengancam stabilitas nasional. Teheran menekankan bahwa meskipun tekanan sanksi dan ancaman militer terus meningkat, operasi keamanan di berbagai provinsi akan terus dilanjutkan guna membasmi sel-sel teroris yang dianggap sebagai perpanjangan tangan musuh di dalam negeri.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Business Insider