Menteri Luar Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini berada pada tingkat kesiapan tertinggi dengan tangan yang sudah berada di atas pelatuk, siap memberikan respons cepat dan menentukan terhadap setiap agresi yang menargetkan wilayah darat, ruang udara, maupun perairan teritorial Iran. Dalam pernyataannya melalui platform media sosial X pada Kamis, 29 Januari 2026, Abbas Araqchi menekankan bahwa pelajaran berharga yang dipetik dari perang 12 hari telah memberikan kemampuan bagi Iran untuk merespons ancaman dengan kekuatan, kecepatan, dan intensitas yang jauh lebih besar. Meskipun menyatakan kesiapan militer yang masif, Abbas Araqchi menyatakan bahwa Teheran tetap membuka pintu bagi kesepakatan nuklir yang adil dan merata berdasarkan kepentingan bersama, asalkan kesepakatan tersebut dilakukan dalam kedudukan yang setara serta bebas dari segala bentuk paksaan, ancaman, maupun intimidasi. Ia menggarisbawahi bahwa senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam perhitungan keamanan Iran dan teknologi nuklir yang mereka kembangkan murni bertujuan untuk kepentingan damai.
Dalam konteks diplomatik, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengonfirmasi bahwa sejauh ini Teheran tidak melakukan kontak apa pun dengan Washington dan tidak pernah meminta adanya negosiasi, karena menurutnya ancaman militer hanya akan membuat proses perundingan menjadi tidak berarti. Dinamika kawasan juga menunjukkan pergerakan intensif di mana Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani telah melakukan diskusi mendalam mengenai perkembangan solusi diplomatik dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung Iran Ali Larijani. Selain itu, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdel-Aty melakukan pembicaraan telepon dengan Abbas Araqchi dan utusan Amerika Serikat Steve Wittkopf untuk mendesak agar solusi politik lebih diprioritaskan guna meredam ketegangan yang semakin memuncak di Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pendekatan Amerika Serikat dalam setiap negosiasi selama ini cenderung didasarkan pada upaya memaksakan dikte sepihak, yang menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan. Di sisi lain, sebuah sikap signifikan ditunjukkan oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang menyatakan penolakan negaranya terhadap segala bentuk agresi terhadap Iran dan secara tegas menolak memberikan izin penggunaan ruang udara Arab Saudi untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran. Sikap Riyadh ini memperkuat posisi Iran secara regional di tengah langkah militer Teheran yang terus meningkatkan level kesiapan pasukannya untuk menghadapi potensi agresi dari pihak mana pun.
Menanggapi situasi yang memanas pasca kedatangan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln di Timur Tengah, Juru Bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa Stephane Dujarric menyampaikan imbauan dari Sekretaris Jenderal PBB agar semua pihak menahan diri. Stephane Dujarric menyatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB merasa sangat prihatin dengan kondisi kawasan dan meyakini bahwa segala kekhawatiran terkait Iran seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog, diplomasi, dan negosiasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyambut baik setiap upaya deeskalasi dan menyerukan langkah-langkah nyata untuk membangun kepercayaan regional.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera


